Yani: Mewujudkan Ambisi Melalui Perkebunan Kelapa Sawit

Print Email

“Mengelola orang banyak itu ada seninya, dibutuhkan pendekatan pribadi dan komitmen tanpa henti untuk mengembangkannya.”

Yani Pandapotan Situmorang telah delapan tahun bekerja di perkebunan kelapa sawit di bawah naungan Asian Agri. Sebagai Asisten Afdeling, wanita yang lahir di Kabupaten Simalungun ini bertanggung jawab atas terciptanya kondisi tempat kerja yang aman dan nyaman, selain meminimalisir potensi kecelakaan di lingkungan kerja.

 

 

Yani juga ditugaskan melakukan pengawasan dan pengendalian operasional di lapangan yang mengharuskannya berkoordinasi dengan banyak pekerja dan mandor pria.

Namun begitu, hal tersebut tidak membuat sarjana jurusan sosial ekonomi pertanian agribisnis Universitas Sumatra Utara (USU) ini canggung, meskipun ia adalah satu-satunya wanita dari lima asisten afdeling yang bertanggung jawab atas 23 blok perkebunan kelapa sawit seluas 688 hektar.

 

 

Memulai Pagi dengan Energi Positif
Setiap pagi di setiap harinya, Yani bangun pukul 04:30 WIB untuk mempersiapkan kegiatan apel pagi yang dilaksanakan pukul 05:20 WIB. Apel pagi ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan arahan kerja spesifik kepada para pekerja dan mandor yang akan turun ke lapangan di hari itu.

Agenda pagi buta tersebut dilanjutkan dengan mendata jumlah tenaga kerja pada hari itu untuk menentukan target minimal produksi yang harus diperoleh seluruh mandor, seraya memastikan bahan yang dibawa sesuai dengan jumlah tenaga kerja, mempersiapkan transportasi yang dibutuhkan untuk mengangkut karyawan ke perkebunan juga masuk ke daftar pekerjaan Yani.

Tidak selesai di situ, Yani harus turun ke lapangan untuk mengontrol kegiatan karyawan di sana. Salah satu tanggung jawabnya yang terbesar adalah harus mengobservasi kinerja mandor dan pekerja sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Sepanjang hari saya harus mendatangi setiap lokasi dengan diam-diam, layaknya hantu. Gerak kami (asisten afdeling) tidak boleh terbaca oleh para pekerja,” ujarnya sumringah.

Memasuki sore hari, Yani masih harus mempersiapkan evaluasi sore yang sangat krusial untuk mendeteksi dan menganalisis kendala yang dihadapi para mandor di lapangan.

Evaluasi sore juga dibuat untuk merencanakan kegiatan esok hari, baik kebutuhan tenaga maupun alat yang digunakan sekaligus mempersiapkan semuanya sebelum menutup hari.

Berbeda dengan karyawan yang bekerja di kantor, berkeliling di area perkebunan mengharuskan Yani untuk tangguh secara fisik dan mental. Seringkali ia memilih berkendara dari kebun ke kebun menggunakan motor karena menurutnya lebih efektif dan efisien. Tentu saja, semuanya ia jalani dengan penuh semangat dan jauh dari keluhan.

 

 

Lingkungan yang Suportif

“Tantangan terbesar bekerja di kebun? Tidak bisa pakai sepatu hak tinggi dan rok!” candanya sambil tergelak renyah. Nyatanya, Yani tidak merasa ada kendala yang membuatnya kesulitan memenuhi tanggung jawabnya sehari-hari.

“Terasa mudah karena semua teman kerja saya dapat diajak diskusi. Setiap hari kami pasti meluangkan waktu untuk ngobrol dan sharing, mereka sudah terasa seperti keluarga,” ungkap wanita yang sudah merantau jauh dari keluarga sejak mengenyam bangku kuliah.

Mengenal sosok Yani, terpancar jelas bahwa ia sangat mencintai apa yang ia lakukan. Baginya, pekerjaan yang membuatnya harus berani tegas di hadapan banyak mandor dan pekerja kelapa sawit tersebut alih-alih menakutkan malah justru sangat menantang dan memberikan kekuatan.

“Saya tidak canggung apalagi takut, karena saya percaya semua yang saya lakukan bermuara pada kebaikan,” terang Yani sembari tersenyum.

“Ada rasa puas yang tak tergantikan ketika saya berhasil memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Kerja kerasnya yang tak kenal lelah membuahkan beberapa penghargaan membanggakan dari perusahaan. Dengan bangga ia berbagi pengalamannya berpartisipasi dalam Asian Agri Innovation Award (AAIA) pada tahun 2013 setelah sukses melakukan penelitian mengenai kriteria matang panen.

“Rasanya seperti mimpi menjadi kenyataan, sudah lama saya ingin bisa menjadi bagian dari acara bergengsi tersebut,” ungkapnya.

Lebih dari itu, departemennya berhasil menyabet posisi puncak sebagai afdeling dengan produksi terbaik di tahun 2016 dan 2018. Apresiasi tersebut menjadi suplemen pembakar semangat bagi Yani dan tim untuk berkembang lebih pesat lagi.

 

Belajar dari Cinta Pertama
Sebagai anak tertua dari delapan bersaudara, Yani telah lama membulatkan tekadnya untuk mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Motivasi diri dan kepercayaan penuh dari keluarganya menjadi penguat untuknya mencapai tujuan tanpa kenal lelah, bahkan ketika ia harus meninggalkan rumah dan hidup jauh dari keluarga.

“Ketika kuliah, saya sudah tinggal di tempat kos karena keluarga saya semuanya menetap di Kabupaten Simalungun. Saya merantau sendirian,” kenangnya.

Sedari masih berstatus mahasiswa, ia telah mencari pemasukan sendiri dengan bekerja sebagai karyawan Purchasing Department di sebuah toko serba ada (toserba) di Medan. Pekerjaan yang tidak mudah namun memberikan banyak pelajaran berharga baginya.

Berjuang hidup mandiri, Yani tidak pernah terlepas dari kuatnya karakter ayah yang mengajarkannya arti pengorbanan dan perjuangan.

“Ayah saya adalah cinta pertama saya. Ia yang mengajarkan saya untuk mencintai apa yang saya perjuangkan,” tegasnya. Sebagai seorang guru, ayahnya merupakan sosok yang tegas, protektif namun selalu suportif terhadap setiap keputusan besar yang Yani ambil atas nama optimalisasi diri.

“Ayah adalah idola saya. Saya tidak akan sampai di sini jika tanpa kepercayaan yang selalu beliau berikan,” ujar Yani.

Nilai berharga tentang kerja keras yang telah tertanam pada diri Yani membuatnya enggan membatasi diri untuk berkarya dan bekerja. Ia selalu percaya bahwa kerja kerasnya akan memberikan dampak positif bagi perusahaan, keluarga dan masyarakat sekitar, lebih dari itu semua, bagi perkembangan potensi dirinya.