Perlindungan Lahan Gambut di Asian Agri: Mengelola Risiko melalui Pendekatan Ilmiah dan Praktik Terbaik
Lahan gambut memerlukan pendekatan pengelolaan yang berbeda. Karakteristiknya yang khas membuat lahan ini berpotensi menimbulkan risiko lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, seperti meningkatnya emisi karbon, penurunan permukaan tanah secara bertahap, serta gangguan terhadap sistem tata air di sekitarnya.
Oleh karena itu, pengelolaan lahan gambut yang bertanggung jawab menjadi penting, tidak hanya untuk melindungi ekosistem di sekitarnya, tetapi juga untuk menjaga stabilitas jangka panjang perkebunan dan mendukung praktik produksi yang lebih berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan gambut dapat membantu mengurangi risiko lingkungan, menjaga keseimbangan sistem tata air, serta memperkuat ketahanan area perkebunan yang sudah ada.
Asian Agri telah memetakan seluruh area perkebunan di lahan gambut yang dikelolanya serta menerapkan pengendalian operasional dan lingkungan yang ketat. Sejalan dengan komitmen tersebut, Asian Agri juga tidak melakukan pengembangan baru di atas lahan gambut.
Praktik Manajemen Terbaik di Lahan Gambut dari RSPO
Sebagai anggota RSPO, kami melakukan pengelolaan air untuk perkebunan berdasarkan Praktik Manajemen Terbaik RSPO bagi lahan gambut. Sebelum membudidayakan apapun pada gambut, studi tentang drainase daerah tersebut harus dilakukan. Proses penilaian akan menentukan pengelolaan air yang cocok untuk dilakukan pada lahan gambut misalnya penggunaan sodetan, pintu air dan bendungan (struktur pengendalian air).
Pengelolaan air yang baik dapat mencegah masuknya air yang berlebihan selama periode hujan ketika tingkat air sungai tinggi serta mencegah kekeringan selama musim kemarau sehingga risiko drainase berlebihan di lahan gambut dapat dimitigasi.
Drainase yang berlebihan tidak hanya meningkatkan laju oksidasi gambut (emisi GRK), namun juga merusak struktur fisik dari gambut itu sendiri dan dengan demikian, sangat merugikan pertumbuhan kelapa sawit dan buah yang dihasilkan. Tiang pengukur ketinggian gambut dipasang di lokasi-lokasi strategis di perkebunan untuk memantau tingkat penurunan kadar gambut secara bulanan.
Berdasarkan prosedur kami, tingkat air drainase harus dijaga pada level 50-70 cm dari permukaan tanah sepanjang tahun. Hal ini sejalan dengan pedoman RSPO untuk Praktik Pengelaan Terbaik pada Budidaya Kelapa Sawit di Lahan Gambut yang sudah berjalan (2012). Perkebunan di lahan gambut kami tersebar di Sumatera Utara dan Riau. Saat ini kami mengelola delapan perkebunan di atas lahan gambut, atau 17 persen dari total area di bawah pengelolaan kami.
Perkebunan kami yang berada di atas lahan gambut sudah memasuki fase penanaman kembali, sehingga studi drainase harus dilakukan sebelum penanaman kembali untuk menentukan kelayakan lahan untuk siklus penanaman kelapa sawit berikutnya.
Kami juga berkomitmen pada kebijakan “tidak ada penanaman baru” di lahan gambut dengan 65% tanah organik atau lebih terlepas dari kedalaman gambutnya. Sebelum penanaman baru, pemetaan dan penilaian lahan gambut dilakukan oleh ahli gambut dari departemen R&D kami. Hasilnya digunakan untuk menghasilkan peta lahan gambut yang menunjukkan area yang harus dilindungi dari pengembangan baru. Kami juga melakukan pemantauan penggunaan air untuk semua pabrik dan perkebunan kami.
Kami juga berbagi pengetahuan dan panduan tentang praktik manajemen terbaik dengan pemasok yang terlibat dengan kami dan telah menanam di lahan gambut untuk meminimalkan dampak lingkungan yang dihasilkan.
Komitmen terhadap Pengelolaan Lahan Gambut yang Bertanggung Jawab
Di Asian Agri, pengelolaan lahan gambut berpedoman pada Kebijakan Keberlanjutan yang menjadi acuan dalam setiap kegiatan operasional. Kebijakan ini mengatur secara tegas batasan dan ketentuan pengelolaan, sehingga setiap area gambut dikelola secara bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian. Penerapannya juga didukung oleh komitmen terhadap prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) serta kesesuaian dengan persyaratan RSPO.
Penerapannya dilakukan melalui:
- Tidak melakukan pembukaan lahan baru di kawasan gambut
- Mengelola lahan gambut yang sudah ada sesuai dengan ketentuan pengelolaan lingkungan
- Menjaga tinggi muka air untuk mendukung kestabilan ekosistem gambut
- Memantau kondisi di lapangan serta melakukan evaluasi secara berkala
- Mengkaji upaya restorasi atau alternatif pemanfaatan lahan apabila penanaman kembali tidak memungkinkan
Asian Agri meninjau praktik-praktik ini secara berkala dan melaporkannya sebagai bagian dari pengungkapan keberlanjutan perusahaan. Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut membantu memastikan bahwa area gambut yang telah ada dikelola secara bertanggung jawab, sekaligus mengurangi risiko lingkungan yang terkait dengan degradasi gambut, penurunan permukaan tanah, dan pengelolaan air yang kurang baik.
Pemetaan Lahan Gambut dan Identifikasi Risiko
Di Asian Agri, penilaian lahan gambut dilakukan oleh tim Penelitian dan Pengembangan (R&D). Tim ini melaksanakan survei lapangan dan kajian teknis untuk memahami kedalaman, kondisi, serta kesesuaian lahan gambut secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil penilaian tersebut, tim menyusun peta tanah di seluruh area operasional perusahaan untuk mengidentifikasi lokasi lahan gambut serta membedakannya dari jenis tanah lainnya. Peta ini menjadi acuan dalam menentukan pendekatan pengelolaan yang paling sesuai bagi setiap area berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Sebelum kegiatan replanting dilakukan di lahan gambut, tim R&D melakukan kajian yang lebih mendalam. Peta kawasan lindung juga disiapkan untuk memastikan penanaman kembali hanya dilakukan pada area yang sebelumnya telah dikembangkan. Apabila suatu lokasi dinilai tidak sesuai untuk ditanami kembali, berbagai pendekatan lain, termasuk upaya restorasi, dapat dipertimbangkan bersama para pemangku kepentingan terkait.
Informasi yang diperoleh dari rangkaian penilaian ini mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan di lapangan sekaligus membantu memastikan bahwa setiap area gambut dikelola sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian, praktik pengelolaan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan sekaligus membantu mengurangi risiko lingkungan melalui keputusan penggunaan lahan dan penanaman kembali yang lebih cermat.
Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi lahan gambut sebelum kegiatan penanaman kembali maupun operasional dilaksanakan, proses penilaian ini mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat serta membantu menjaga kesesuaian jangka panjang area perkebunan yang telah ada.
Praktik Pengelolaan Terbaik di Lahan Gambut
Pengelolaan lahan gambut pada dasarnya bergantung pada tata kelola air yang baik. Gambut perlu tetap lembap agar kondisinya tetap stabil. Jika mengering, gambut dapat melepaskan lebih banyak karbon, kehilangan strukturnya, dan mengalami penurunan permukaan tanah.
Sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Asian Agri menerapkan praktik terbaik yang ditetapkan RSPO dalam mengelola areal gambut, dengan fokus utama pada pengelolaan tata air dan disiplin dalam pelaksanaan di lapangan.
Pengelolaan Tata Air
Asian Agri mulai merencanakan pengelolaan air jauh sebelum kegiatan penanaman kembali dilakukan. Sekitar lima tahun sebelumnya, perusahaan melakukan kajian untuk memahami bagaimana air mengalir di suatu areal. Hasil kajian ini membantu menentukan potensi lahan sekaligus langkah-langkah pengendalian air yang diperlukan.
Di lapangan, aliran air dikelola melalui berbagai infrastruktur, antara lain:
- Tanggul
- Pintu air
- Bendung
Struktur ini disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama saat curah hujan tinggi maupun pada periode kering. Perusahaan berupaya menjaga tinggi muka air berada pada kisaran 50 hingga 70 cm di bawah permukaan tanah. Hal membantu untuk:
- Mencegah masuknya kelebihan air pada musim hujan
- Mempertahankan kelembapan yang cukup selama periode kering sehingga tidak terjadi pengeringan berlebihan pada lahan
Menjaga tinggi muka air pada tingkat yang sesuai berperan dalam memperlambat degradasi gambut sekaligus mendukung pengelolaan lahan gambut yang lebih berkelanjutan. Selain membantu mempertahankan kestabilan gambut dan menekan risiko penurunan permukaan tanah yang berlebihan, langkah ini juga mendukung produktivitas serta ketahanan perkebunan di lahan gambut dalam jangka panjang.
Pemantauan Penurunan Permukaan Tanah
Asian Agri juga memantau perubahan kondisi lahan dari waktu ke waktu. Untuk itu, perusahaan memasang patok subsidensi di titik-titik strategis dan melakukan pengukuran setiap bulan.
Tanah gambut dapat mengalami penurunan permukaan tanah seiring mengering dan terdekomposisi, terutama jika lahan mengalami drainase berlebihan. Kondisi ini dapat:
- Meningkatkan oksidasi gambut sehingga menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi
- Merusak struktur tanah, yang dalam banyak kasus bersifat permanen
- Mengganggu pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit dalam jangka panjang
- Menurunkan stabilitas lahan dan meningkatkan risiko banjir
Dengan memantau penurunan permukaan tanah secara rutin, Asian Agri dapat memahami bagaimana kondisi lahan gambut berubah dari waktu ke waktu dan menyesuaikan pengelolaan tata air maupun praktik di lapangan bila diperlukan. Hal ini membantu tim operasional merespons perubahan di lapangan dengan lebih cepat sekaligus mendukung stabilitas jangka panjang pada area gambut yang telah dibudidayakan.
Pengolalaan Nutrisi Hara dan Kualitas Air
Lahan gambut memerlukan pendekatan yang lebih cermat dalam pengelolaan nutrisi karena kondisi tanah dan air saling berkaitan erat. Di Asian Agri, penggunaan pupuk direncanakan berdasarkan kondisi di lapangan, termasuk dosis, waktu aplikasi, dan metode yang tepat.
Karena hara dapat berpindah bersama aliran air di tanah gambut, pengelolaan yang kurang baik berpotensi menyebabkan limpasan nutrisi ke badan air di sekitarnya. Seiring waktu, kondisi ini dapat memicu eutrofikasi, yaitu penumpukan nutrisi berlebih yang dapat:
- Memicu pertumbuhan alga secara berlebihan
- Menurunkan kadar oksigen terlarut
- Memengaruhi kualitas air serta kehidupan organisme akuatik
Dengan mengelola nutrisi secara terpadu bersama pengaturan muka air, kami mengurangi kehilangan nutrisi sekaligus melindungi sistem perairan di sekitarnya.
Pemantauan, Kepatuhan, dan Peningkatan Berkelanjutan
Pengelolaan lahan gambut tidak berhenti setelah sistem diterapkan. Seiring waktu, kondisi di lapangan dapat berubah sehingga pemantauan secara berkala menjadi penting untuk memahami perkembangan yang terjadi serta memastikan langkah-langkah pengelolaan tetap berjalan sesuai tujuan.
Di Asian Agri, berbagai data lapangan seperti tinggi muka air, tingkat subsidensi, dan kondisi lokasi dicatat serta ditinjau secara rutin oleh tim operasional. Hal ini memungkinkan potensi permasalahan teridentifikasi sejak dini sekaligus memberikan dasar bagi tim untuk mengambil tindakan sebelum berkembang menjadi isu lingkungan maupun operasional yang lebih besar.
Upaya ini dijalankan berdasarkan prosedur internal dan selaras dengan persyaratan RSPO, termasuk proses sertifikasi dan pelaporan keberlanjutan. Melalui kerangka tersebut, pengelolaan lahan gambut dapat diterapkan secara konsisten di seluruh operasional perusahaan serta dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.
Pemantauan secara berkala juga membantu kami memahami dinamika kondisi di lapangan dari waktu ke waktu. Berbagai temuan yang diperoleh menjadi dasar untuk menyempurnakan praktik pengelolaan, meningkatkan strategi tata kelola air, serta mendukung hasil yang lebih baik bagi perkebunan maupun lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, pemantauan bukan sekadar memenuhi persyaratan kepatuhan. Pemantauan merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko, melindungi lahan gambut, serta mendukung komitmen Climate Positive dan Responsible & Sustainable Production Asian Agri dalam kerangka Asian Agri 2030 (AA2030), strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Melalui pengawasan yang lebih baik terhadap tinggi muka air, stabilitas gambut, dan kondisi di lapangan, kegiatan pemantauan turut mendukung pengelolaan lahan yang lebih bertanggung jawab, efisiensi pemanfaatan sumber daya, serta ketahanan jangka panjang kawasan perkebunan yang telah ada.
Mendukung AA2030 melalui Pengelolaan Lahan Gambut yang Bertanggung Jawab
Pengelolaan lahan gambut yang bertanggung jawab mendukung tujuan Asian Agri 2030 (AA2030), strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan untuk menciptakan dampak positif bagi iklim, masyarakat, dan produksi.
Perlindungan lahan gambut berkontribusi langsung terhadap ambisi Climate Positive AA2030 dengan membantu mengurangi risiko lingkungan yang berkaitan dengan degradasi gambut. Melalui pengelolaan tata air yang bertanggung jawab, pemantauan penurunan permukaan gambut (subsidence) secara berkala, pencegahan pembukaan lahan baru di atas gambut, serta kajian terhadap peluang restorasi apabila diperlukan, Asian Agri berupaya meminimalkan kondisi yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dari tanah gambut.
Pengelolaan lahan gambut juga mendukung komitmen Responsible & Sustainable Production dalam AA2030. Menjaga tinggi muka air tetap stabil, melindungi sistem perairan di sekitar area operasional, memantau kondisi lahan, serta menerapkan praktik pengelolaan yang disesuaikan dengan karakteristik setiap lokasi membantu menjaga stabilitas gambut sekaligus mendukung produktivitas jangka panjang pada area perkebunan yang telah ada. Berbagai upaya tersebut turut mendorong pengelolaan lahan yang lebih efisien sekaligus mengurangi risiko lingkungan yang berkaitan dengan budidaya di lahan gambut.
Melalui perpaduan antara kajian ilmiah, pemantauan yang berkelanjutan, dan praktik pengelolaan di lapangan yang bertanggung jawab, pengelolaan lahan gambut membantu Asian Agri menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan pelestarian lingkungan, sekaligus mendukung pencapaian tujuan AA2030 serta komitmen perusahaan terhadap produksi minyak sawit yang berkelanjutan.
Frequently Asked Questions (FAQs)
- Apa pendekatan Asian Agri dalam mengelola lahan gambut?
Asian Agri menerapkan praktik terbaik RSPO dalam pengelolaan lahan gambut dengan berfokus pada pengelolaan tata air, pengelolaan hara, dan pemantauan penurunan permukaan gambut (subsidence). Pendekatan ini bertujuan menjaga stabilitas gambut, mengurangi emisi, serta mendukung produktivitas lahan dalam jangka panjang. - Bagaimana Asian Agri mengelola tinggi muka air di lahan gambut?
Asian Agri menjaga tinggi muka air di lahan gambut pada kisaran 50-70 cm di bawah permukaan tanah untuk mencegah drainase berlebihan dan mengurangi oksidasi gambut. Pengelolaan ini dilakukan melalui sistem drainase terkendali, tanggul (bund), dan pintu air yang disesuaikan dengan kondisi cuaca. - Sistem pemantauan apa yang digunakan Asian Agri untuk lahan gambut?
Asian Agri memantau indikator utama seperti tinggi muka air dan penurunan permukaan gambut. Perusahaan memasang patok penurunan permukaan di berbagai area gambut dan melakukan pemantauan setiap bulan untuk menjaga stabilitas lahan serta mendeteksi potensi permasalahan sejak dini. - Mengapa pengelolaan hara penting di lahan gambut?
Asian Agri menerapkan pengelolaan hara secara tepat karena tanah gambut sangat sensitif terhadap penggunaan pupuk. Perusahaan memastikan dosis, waktu, dan metode aplikasi yang sesuai untuk mengurangi kehilangan unsur hara, mencegah eutrofikasi pada badan air di sekitarnya, serta melindungi ekosistem. - Bagaimana Asian Agri memastikan kepatuhan terhadap praktik pengelolaan lahan gambut?
Asian Agri memastikan kepatuhan terhadap praktik pengelolaan lahan gambut melalui pemantauan rutin, audit internal, dan penerapan persyaratan RSPO. Pelaporan keberlanjutan dan proses sertifikasi juga mendukung akuntabilitas serta perbaikan berkelanjutan dalam pengelolaan lahan gambut.

