NEGERI

Bermanfaat Bagi Negara

 

Industri minyak kelapa sawit adalah perusahaan besar di Indonesia, dan telah mengangkat jutaan keluarga dari kemiskinan. Berdasarkan data 2013 dari menteri perindustrian, industri minyak menyumbang 1,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Industri minyak sawit Indonesia juga menyumbang 11% atau USD 20 miliar dari total ekspor, memberikan kontribusi pendapatan valuta asing yang signifikan.

Asian Agri bermitra dengan 30.000 petani kecil, membantu mereka meningkatkan hasil panen mereka dan karenanya standar hidup mereka dalam mendukung UN’s Sustainable Development Goals. Petani kecil Asian Agri yang merupakan bagian dari skema Plasma pemerintah memperoleh pendapatan tahunan rata-rata US $ 6.000 dibandingkan dengan US $ 800 untuk petani minyak non-rencana, menurut laporan 2014 oleh Institut Kebijakan Strategis Agribisnis Kelapa Sawit.

Kelapa sawit juga sangat efisien dibandingkan dengan tanaman minyak lainnya, menghasilkan 33 persen minyak nabati dunia dengan hanya 6 persen dari tanah. Ini menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi bagi petani dan penggunaan lahan yang lebih rendah.


Tenaga Kerja

Industri kelapa sawit di Indonesia telah menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja. Lebih dari setengahnya terlibat langsung dalam perkebunan sehingga mampu menggerakkan perekonomian nasional. Per tahunnya dibutuhkan 5.000 sampai 6.000 tenaga kerja di sektor kelapa sawit di seluruh Indonesia. Sektor kelapa sawit membutuhkan SDM terdidik dan terampil dalam pengolahan. Kebutuhan regenerasi SDM kelapa sawit di Indonesia amat besar dikarenakan kelapa sawit telah dimulai sejak zaman pra-kemerdekaan 100 tahun yang lalu. Aspek berkelanjutan dan lingkungan hidup juga menjadi aspek penting dalam mencetak tenaga kerja siap pakai.  

 


 

Konservasi Lingkungan

Kelapa sawit bermanfaat dalam menyerap karbondioksida dan menghasilkan 196,8 juta oksigen. Karena perkebunan sawit umumnya menggunakan lahan bekas logging dan lahan hutan yang tidak terawat, hal ini menyebabkan sawit menjadi salah satu penyumbang oksigen untuk Indonesia dan dunia.

Komitmen Asian Agri dalam menerapkan pencegahan deforestasi adalah melalui perlindungan areal HCV (High Conservation Value/Area Konservasi Tinggi), HCS (High Carbon Stock/Area yang memiliki karbon tinggi), kebijakan tanpa bakar (zero burning) dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Secara khusus, Asian Agri berkomitmen untuk pelestarian lahan gambut dengan tidak membuka perkebunan baru di lahan gambut dan menerapkan praktik manajemen terbaik. Pada tahun 2014, Asian Agri menegaskan kembali komitmen ini dengan mengambil inisiatif untuk menandatangani Sustainable Palm Oil Manifesto (SPOM) dan Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP) di New York sebagai langkah maju menuju keberlanjutan.


Fasilitas & Infrastuktur

Pengembangan infrastruktur merupakan aspek penting dari kebijakan keberlanjutan holistik Asian Agri. Perusahaan secara aktif berkontribusi pada pengembangan dan semangat masyarakat di wilayah operasinya dengan pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan, saluran air dan rumah ibadah.

 


 

Ketahanan Energi

Komitmen kami untuk mendukung keberlanjutan diwujudkan melalui konversi residu olahan atau limbah produksi menjadi pupuk organik serta menghasilkan energi terbarukan.

Asian Agri telah membangun dan mengoperasikan sepuluh pembangkit listrik biogas (PLTBg) pada tahun 2019: lima di Sumatera Utara, tiga di Riau, dan dua di Jambi. Masing-masing PLTBg akan menghasilkan energi listrik sebesar 2,2MW, 700kW digunakan untuk operasional pabrik dan 1,5MW digunakan untuk masyarakat lokal.   

Lima pabrik biogas Asia Agri - Taman Raja, Gunung Melayu I, Buatan I, Ukui I dan Negri Lama II MIll - diverifikasi pada tahun 2015 oleh lembaga sertifikasi terakreditasi ISCC, SGS Jerman, untuk memenuhi standar ISCC.