Ternak Lebah Kelulut Bantu Desa di Riau Kembangkan Potensi Ekonomi Lokal

Print Email

Pekanbaru, 2 Juli 2019 – Usaha madu kelulut menjadi salah satu opsi ekonomi lokal yang saat ini mulai dikembangkan di Provinsi Riau. Salah satu kelompok masyarakat yang menggelutinya adalah warga yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Desa Tambak, Riau, yang merupakan desa mitra program Desa Bebas Api binaan Asian Agri. 

Madu kelulut dihasilkan dari lebah kelulut yang tergolong ke dalam lebah yang tidak bersengat dan mampu menghasilkan madu sama seperti lebah madu. Keberadaan lebah kelulut saat ini dapat dengan mudah ditemui di hutan-hutan, khususnya hutan di Indonesia.

 

Lebah Kelulut menghasilkan madu kelulut yang aman untuk dikonsumsi langsung oleh manusia
 

Usaha madu kelulut yang merupakan hasil pendampingan dari program Desa Bebas Api Asian Agri saat ini telah juga mulai dipasarkan ke masyarakat sekitar.

“Melalui program Desa Bebas Api, kami turut mendukung kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal yang sekiranya cocok untuk ditekuni, disamping tentunya turut bermitra dalam melakukan usaha pencegahan kebakaran,” ujar Pengarapen Gurusinga, Regional Head Asian Agri wilayah Riau di acara halalbihalal Asian Agri bersama media dan penyerahan penghargaan Desa Bebas Api di Riau.

Penyerahan Penghargaan Desa Bebas Api Riau

Sebanyak 2 desa di Riau hari ini memperoleh penghargaan atas komitmen desa terhadap pencegahan kebakaran lahan (2/7).

Desa yang tergabung dalam program Desa Bebas Api binaan Asian Agri yakni Desa Rantau Baru dan Desa Tambak masing-masing menerima penghargaan sebesar 100 juta rupiah dan 50 juta rupiah untuk kategori desa tanpa kebakaran dan desa dengan luas terbakar di bawah 1 hektar.

 

Regional Head Asian Agri Wilayah Riau, Pengarapen Gurusinga (kedua dari kiri) menyerahkan secara simbolis penghargaan program Desa Bebas Api kepada Kepala Desa mitra Asian Agri
  

Penyerahan penghargaan diserahkan oleh Pengarapen Gurusinga, Regional Head Asian Agri wilayah Riau kepada Kepala Desa sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan atas komitmen dan usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan selama satu tahun ke belakang.

“Program Desa Bebas Api dirancang sebagai suatu bentuk sinergi bersama antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan dalam menekan angka kebakaran lahan yang berfokus pada pencegahan dan antisipasi dini,” ujar Gurusinga.

Program ini didukung oleh masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api yang secara sukarela bertanggung jawab untuk melakukan sosialisasi kepada warga desa dan bersiap siaga untuk melakukan antisipasi dini ketika terjadi kebakaran lahan.

“Masyarakat sebagai pihak yang paling dekat dengan lokasi terjadinya kebakaran lahan memiliki peran penting dalam melakukan pencegahan dan juga antisipasi dini sebelum api meluas ke daerah lainnya. Di Asian Agri kami memberdayakan masyarakat untuk memiliki pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mencegah kebakaran,” ujar Gurusinga.

Melalui program Desa Bebas Api, Asian Agri bermitra dengan desa-desa yang berlokasi di sekitar daerah operasional perusahaan untuk mencegah dan melakukan antisipasi dini terhadap kebakaran. Dimulai pada tahun 2016, saat ini perusahaan telah bermitra dengan 16 desa di Riau dan Jambi.

Desa yang berhasil mencegah daerahnya dari kebakaran akan memperoleh penghargaan sebesar 100 juta rupiah dan desa dengan kebakaran kurang dari 1 hektar akan memperoleh 50 juta rupiah.

Sekilas Mengenai Asian Agri:

Asian Agri merupakan salah satu perusahaan swasta nasional terkemuka di Indonesia yang memproduksi minyak sawit mentah (CPO) sejak tahun 1979. Hingga kini Asian Agri mengelola 100.000 hektar kebun kelapa sawit dan mempekerjakan 25.000 orang.

Sebagai perintis program Pemerintah Indonesia Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans), Asian Agri telah bermitra dengan 30.000 petani plasma di Riau dan Jambi yang mengelola 60.000 hektar kebun kelapa sawit, serta membina kemitraan dengan petani swadaya untuk membawa dampak positif terhadap kesejahteraan dan peningkatan ekonomi petani.

Dengan menerapkan kebijakan tanpa bakar dan praktik pengelolaan kebun secara berkelanjutan, Asian Agri membantu petani mitra untuk meningkatkan produktifitas, hasil panen, kemamputelusuran rantai pasok, sekaligus mendukung mereka memperoleh sertifikasi. Pabrik Asian Agri menerapkan teknologi terbaik memanfaatkan energi hijau yang dihasilkan secara mandiri, dalam rangka meminimalisasi emisi gas rumah kaca.

Lebih dari 86% dari perkebunan inti Asian Agri di Provinsi Sumatra Utara, Riau & Jambi serta 100% perkebunan petani plasma di Provinsi Riau & Jambi telah bersertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Pada saat yang sama, ISCC (International Sustainability & Carbon Certification) telah dicapai oleh seluruh kebun baik yang dimiliki oleh Asian Agri maupun petani binaannya. Seluruh unit bisnis dalam naungan Asian Agri telah memperoleh sertifikat ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

Keberhasilan Asian Agri menjadi salah satu perusahaan produsen CPO terkemuka telah diakui secara internasional dengan sertifikasi ISO 14001 untuk semua operasinya. Learning Institute di Pelalawan, Riau, serta pusat pembibitan di Kampar, Riau, juga telah bersertifikat ISO 9001. Selain itu, pusat penelitian dan pengembangan Asian Agri di Tebing Tinggi juga telah memperoleh sertifikasi oleh International Plant - Analytical Exchange di lab WEPAL di Wageningen University di Belanda, untuk standar yang tinggi.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Maria Sidabutar
Kepala Komunikasi Perusahaan
E-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
DID: +62 21 2301 119

Klik disini untuk versi PDF