Anisa Handayani: Melawan Stereotip di Perkebunan Kelapa Sawit

Print Email

Mimpi Anisa Handayani untuk melestarikan alam mulai terwujud saat ia meraih National Championship Scholarship (NCS) dari Tanoto Foundation untuk mempelajari agribisnis di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2009. 

"Saya daftar National Champions Scholarship dari Tanoto Foundation karena beasiswa tersebut tidak hanya memberikan bantuan finansial saja, tapi juga peningkatan kompetensi dan keterampilan melalui beragam pelatihan. Jadi kenapa engga saya mencobanya?" kata Anisa yang pernah menjadi peserta pertukaran pelajaran ke Jepang.

Setelah lulus dari UGM pada 2012, Anisa terus mengejar mimpinya untuk melestarikan lingkungan dan bekerja di Asian Agri. Berbagai pelatihan seperti manajemen perkebunan, pelestarian alam, pengendalian hama harus diikutinya sebelum bekerja secara permanen di Asian Agri.

Anisa bekerja sebagai Sustainability Officer di Departemen Environmental, Sustainability, dan Corporate Social Responsibility (CSR). "Sejak masa pelatihan, saya sudah minta untuk ditempatkan di tim sustainability. Akhirnya saya ditempatkan disitu dan bisa mewujudkan mimpi untuk melestarikan alam," kenangnya.

Tugas utama Anisa adalah untuk mengurus sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). "Pekerjaan utama saya berkoordinasi dengan para pemimpin unit lainnya untuk mengecek apakah implementasi di lapangan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh sertifikasi."

Anisa bercerita jika kebanyakan waktu kerjanya dihabiskan di perkebunan, yang berlokasi di Negeri Lama, Labuhanbatu, Sumatera Utara. Ia harus memeriksa apakah implementasi aspek-aspek berkelanjutan di lapangan sudah sesuai dengan standarisasi. Terkadang, Anisa juga berada di kantor untuk mengajarkan data dan laporan berkelanjutan.

Bagi sebagian orang, pekerjaan ini terbilang berat, namun tidak bagi Anisa. Ia menjadi perempuan pertama yang direkrut oleh departemen Environmental, Sustainability, dan Corporate Social Responsibility (CSR) Asian Agri. Kinerjanya pun dihargai oleh perusahaan saat ia berhasil mendapatkan zero finding saat melakukan audit pada aspek-aspek berkelanjutan. "Pada periode 2014-2015 kemarin, tidak ada penemuan besar (major findings) saat audit berkelanjutan. Saya sebagai tim keberlanjutan merasa bangga dengan pencapaian ini," jelasnya.

Empat tahun sudah Anisa bekerja di Asian Agri, dan ia menikmatinya, meski terkadang juga menghadapi banyak tantangan. Belum banyaknya perempuan yang bekerja di perkebunan, membuat Anisa seringkali dipandang sebelah mata. "Perkebunan ini masih memegang erat tradisi lama yang sangat man-oriented. Mereka juga menstereotipkan perempuan itu lemah dan tidak cocok bekerja di perkebunan," cerita Anisa.

Meski dipandang sebelah mata, Anisa tidak patah semangat. Sterotip orang-orang terhadap perempuan di perkebunan justru memotivasinya untuk membuktikan jika perempuan juga bisa bekerja dan berhasil di perkebunan. "Sekarang saya sudah bertahan disini selama hampir empat tahun. Jika saya tidak diremehkan, saya mungkin nggak bisa membuktikan kalau perempuan juga bisa bekerja di perkebunan," kata Anisa.

Dia juga bersyukur bekerja pada perusahaan yang menjunjung tinggi kesetaraan gender. Asian Agri memberikan beragam dukungan bagi pekerja perempuan. Salah satu dukungan tersebut ditunjukkan dengan membentuk komite gender yang bertujuan untuk melindungi, memberdayakan, dan mengedukasi pekerja perempuan. 

Anisa mengatakan jika komite gender tersebut bahkan memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang melindungi dan menangani isu-isu gender, seperti pelecehan seksual atau kekerasan terhadap perempuan. Sosialisasi dan seminar seperti tentang kesehatan reproduksi pun secara rutin diadakan oleh komite gender.

Dengan adanya dukungan dari perusahaan, Anisa berkomitmen utnuk terus meningkatkan kemampuannya dengan secara  rutin mengikuti seminar dan pelatihan. "Perusahaan sering mengadakan pelatihan pengembangan diri untuk karyawan. Ada juga pelatihan yang lebih spesifik, seperti yang baru saya ikuti, pelatihan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U)."

Anisa berterima kasih pada Asian Agri dan Tanoto Foundation yang mendukung mimpinya untuk melestarikan alam. Ia berharap Asian Agri dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi para karyawannya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia berpesan kepada setiap perempuan untuk selalu percaya akan kemampuan diri sendiri dan membuktikan jika perempuan juga bisa meraih mimpi mereka.

Klik di sini untuk versi PDF