Sawit Berikan Peluang Petani Merambah Bisnis Bengkel Motor

Print Email

Sepeda motor merupakan kendaraan dengan jumlah terbanyak di Indonesia. Bahkan pertumbuhannya dari tahun ke tahun selalu naik.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kurang lebih terdapat 113 juta unit sepeda motor di tahun 2019 dan jumlah ini kian bertumbuh seiring berkembangnya waktu. Kondisi ini menciptakan peluang baru untuk membuka usaha bengkel motor.

Peluang usaha tersebut juga terpikirkan oleh Bambang Yuliantoro, petani generasi kedua mitra Asian Agri yang berpikir usaha apa yang memiliki prospek yang bagus di desanya. Terlebih, ia membutuhkan pendapatan sampingan di luar kebun sawitnya yang sebentar lagi akan menjalani peremajaan atau replanting.

Akhirnya, lima tahun yang lalu, Bambang memutuskan meminjam uang di bank sebagai modal awal untuk merintis bengkel sepeda motor.

"Awalnya saya memiliki kenalan orang bank yang menawarkan pinjaman sebesar Rp 100 juta. Uang tersebut saya gunakan sebagai modal awal dalam berbisnis bengkel sepeda motor. Terus terang awalnya saya bermodal nekat saja karena saya pun tidak memiliki keterampilan sebagai mekanik dan juga awam dengan sepeda motor," ungkap bapak beranak dua ini sambil tertawa.

Modal yang ia dapatkan dari bank tersebut ia gunakan untuk menyewa ruko di dekat rumahnya. Karena usahanya kian berkembang pesat, kini Bambang tidak hanya menyewa tapi juga membeli ruko tersebut.

Berbicara mengenai omzet, Bambang mengaku omzet bengkelnya mencapai Rp 10 juta per bulan. Dari keuntungan tersebut, Bambang dapat menyekolahkan kedua anaknya hingga ke perguruan tinggi.

"Awalnya, usaha ini memang dirintis untuk memenuhi kebutuhan anak yang sedang kuliah. Alhamdulillah kini anak yang pertama saya, Novryan Rahma, sudah lulus dari Universitas Islam Riau (UIR), dan kini anak kedua saya, Agustyan Putri masih menjalani semester 5 di Stikes Pekanbaru," tutur suami dari Isah Marlina ini.

Di masa pandemi ini, ketika banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang tumbang, menurut Bambang, usaha bengkel sepeda motornya justru tidak terdampak.

"Alhamdulillah sampai sekarang usaha bengkel ini masih lancar dan masih ramai dikunjungi. Menurut saya mungkin karena letaknya ada di desa dan bukan di kota besar sehingga aktivitas masyarakat juga masih berjalan normal," jelas pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat ini.

Menurut Bambang, sebelum memulai bisnis bengkel sepeda motor, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

"Yang pertama tentunya niat dan tekad yang kuat. Kemudian, lokasi yang strategis juga penting. Yang tak kalah penting yaitu sumber daya manusia (SDM) atau tenaga mekanik, karena mekanik yang mumpuni dapat membuat pelanggan puas  dan akan kembali lagi," jelas Bambang.

Tak hanya mengelola kebun sawit dan berbisnis bengkel sepeda motor, Bambang kini juga merambah ke usaha lainnya yaitu beternak ayam boiler dan bisnis gas elpiji. Jika mengingat kehidupannya yang dulu sebelum merantau, Bambang merasa sangat bersyukur.

"Dulu sebelum bapak saya mengikuti program transmigrasi dari Pemerintah, kami hidup susah dan tidak punya apa-apa. Alhamdulillah setelah keluarga memutuskan merantau dari Majalengka ke Riau di tahun 1991, di situ kami langsung bermitra dengan Asian Agri, perlahan kehidupan kami membaik. Kini, saya yang bertugas mengurus kebun sawit keluarga setelah bapak meninggal," ungkap Bambang sambil mengenang.

Tak hanya mengurus kebun sawit keluarga, Bambang juga memiliki kebun sawit sendiri seluas 4 hektar dan juga bermitra dengan Asian Agri. Bambang juga mempekerjakan 4 orang warga sekitar untuk mengurus kebun sawitnya.

"Hubungan kami dengan Asian Agri sangat harmonis, tidak hanya sebatas mitra kerja saja. Saya juga telah melihat sendiri bagaimana dulu bapak didampingi dalam mengurus kebun sawit secara berkelanjutan, diberikan pengetahuan mengenai pupuk dan juga benih unggul, karena itu ketika saya memiliki kebun sendiri saya langsung memutuskan bermitra dengan Asian Agri," jelas pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris KUD Sumber Rejeki, Desa Bukit Agung, Kecamatan Kerinci Kanan ini.

Sawit terbukti telah membuka wawasan dan jiwa kewirausahaan seorang Bambang, juga memperluas lapangan kerja bagi masyarakat desa dan memperluas kesempatan berwirausaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Related Articles

Connected Plantation: Pengguna... Secara sepintas aktivitas di perkebunan kelapa sawit terkesan jauh dari teknologi canggih. Kegiatan panen dengan cara tradisional menggunakan tangan dan egrek, ...
Petani Generasi Kedua: Sukses ...
Petani Generasi Kedua: Sukses ... Bagi sebagian orang, cacing merupakan hewan menjijikkan, namun bagi Kristiono, petani generasi kedua mitra Asian Agri, cacing memiliki potensi ekonomi yang dapa...
Program Desa Bebas Api Asian A...
Program Desa Bebas Api Asian A... Mencegah kebakaran hutan dan asap di Indonesia membutuhkan kerjasama hingga di tingkat masyarakat, ini sebabnya Asian Agri meluncurkan program Desa Bebas Api pa...