Petani Generasi Kedua: Sukses Budidaya Cacing Sebagai Pendapatan Alternatif

Print Email

Bagi sebagian orang, cacing merupakan hewan menjijikkan, namun bagi Kristiono, petani generasi kedua mitra Asian Agri, cacing memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

Jenis cacing yang dibudidayakan oleh Kris, begitu ia biasa disapa, bukanlah jenis cacing biasa. Kristiono melakukan budidaya jenis cacing ANC atau African Night Crawler yang berasal dari Afrika Barat dan berukuran dua kali lebih besar dari cacing tanah biasa.

Budidaya Cacing Dengan Sarana Pohon Kelapa Sawit

Alasan Kris mengembangkan budidaya cacing ANC ini adalah karena ia terpanggil untuk menggali potensi dari tempat tinggalnya yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit.

“Saya sebagai seorang anak petani sawit dan tinggal dikelilingi oleh perkebunan sawit berpikir untuk menggeluti usaha yang berasal dari sawit dan kembali lagi ke sawit, salah satunya budidaya cacing ANC.Karena media yang digunakan untuk budidaya cacing bukan menggunakan tanah, tapi memanfaatkan pohon sawit yang telah mati,” jelas Kris.

Kristiono adalah petani generasi kedua mitra Asian Agri

Menurut pria asal Salatiga, Jawa Tengah ini, pohon sawit yang digunakan sebagai media cacing tanah haruslah pohon sawit yang tumbang secara alami, karena cacing ANC tidak menyukai bau kimia yang dapat menghambat perkembangan cacing.

Selain digunakan sebagai tempat tinggal serta makanan bagi cacing ANC, sisa-sisa pohon sawit yang telah membusuk secara alami tersebut juga dapat kembali digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman sawit.

Awal mula ia berbisnis cacing adalah karena adanya pembinaan dari Asian Agri. Kris mengaku sangat banyak terbantu, terutama dalam pendampingan ketika memasuki masa peremajaan atau replanting.

Ayah Kris, Sunarto, merupakan petani mitra Asian Agri yang mengikuti program PIR Trans di tahun 1991.

“Sejak Ayah saya menjadi petani PIR Trans, Asian Agri telah mendampingi kami dari awal. Kini, saya sebagai penerusnya juga mendapat bimbingan langsung, sehingga kami mengetahui prospek bisnis apa saja yang dapat dikembangkan, terutama ketika menghadapi replanting,” tutur Kris.

Cacing African Night Crawler sebagai pendapatan alternatif

Pembinaan Asian Agri yang Mendatangkan Keuntungan

Kris telah menggeluti bisnis budidaya cacing ANC selama lebih dari 2,5 tahun. Ternyata, pria yang telah menetap di Pelalawan, Provinsi Riau sejak tahun 2005 ini awalnya sempat mencoba berbagai jenis usaha sebelum menetapkan pilihan berbisnis budidaya cacing ANC.

“Bisnis cacing ANC ini merupakan saran dan bimbingan dari Asian Agri. Karena bisnis ini masih tergolong baru, begitu saya dengar ada prospek saya tidak ragu untuk mengikuti pembinaan dan mempelajarinya lebih lanjut,” tambahnya.

“Saya juga pernah mencoba budidaya ikan lele, namun persiapan dan modal awalnya lebih banyak dibanding budidaya cacing. Kalau budidaya lele, kita harus memikirkan tempatnya, bibit dan juga makanannya, sedangkan budidaya cacing lebih mudah dan terjangkau,” jelas Kristiono.

Kris menambahkan bahwa budidaya cacing ANC hanya membutuhkan bibit, sangat menghemat tempat, dari segi makanan pun lebih mudah dan lebih murah karena hanya membutuhkan buah-buahan seperti pepaya, ampas tahu, atau bahkan kotoran sapi.

Berbicara mengenai omzet, Kris menjelaskan bahwa omzet budidaya cacing ANC tergantung berapa banyak benih yang dikembangbiakkan. “Pengalaman saya, bibit saya sebar sebanyak 1,5 kg, selama 2,5 bulan sudah bisa panen 2,5kg. Cacing ANC ini dihargai Rp 100.000 per kilogramnya,” tambahnya.

Kristiono mempraktekkan cara budidaya cacing ANC

Kris mengaku sering mengajak masyarakat Desa Buana Bhakti, Kerinci Kanan, tempat ia bermukim untuk turut berbudidaya cacing ANC.

“Saya sering mengedukasi masyarakat di sini mengenai manfaat berbisnis cacing ANC, terlebih ketika menunggu masa replanting. Saya berharap masyarakat di sini dapat memiliki usaha lain di luar kebun sawit.”

Kini, Kris telah memiliki beberapa mitra yang merupakan sesama anak petani sawit. Ketika tiba masa panen cacing ANC, mereka dapat secara kolektif mengumpulkan cacing dan menjualnya ke pengepul.

“Untuk daerah sini memang saya membentuk kelompok sehingga jadwal panennya bisa bersamaan,” ungkapnya.

Related Articles

Perubahan Hidup Riaman Setelah...
Perubahan Hidup Riaman Setelah... Kehidupan Riaman Ilyanto menjadi cukup berat ketika ia memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Riau pada tahun 1997 untuk menjadi seorang petani kelapa sawit. ...
Topaz, Benih Unggulan Asian Ag...
Topaz, Benih Unggulan Asian Ag... Kualitas benih menjadi salah satu kunci penting bagi para petani kelapa sawit. Dengan masa produktivitas selama 25 tahun, pemilihan benih yang tepat dapat memba...
Apakah yang Dimaksud dengan Mi...
Apakah yang Dimaksud dengan Mi... Tahukah kamu, sekitar setengah dari produk yang dijual di supermarket biasanya mengandung minyak sawit. Minyak sawit dianggap sebagai bahan serbaguna yang bisa ...