Bangga Jadi Petani – KUD Bukit Potalo Perjuangkan Sawit Berkelanjutan

Print Email

Tidak ada yang lebih membanggakan bagi Atan selain melihat teman-teman sejawatnya, sesama petani sawit, bersemangat dalam mendukung pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.

Sebagai ketua dari Koperasi Unit Desa (KUD) Bukit Potalo yang bertempat di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Atan tidak pernah menyangka bahwa KUD yang dipimpinnya dapat memperoleh sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) – sertifikasi keberlanjutan kelapa sawit pertama di Indonesia.

Petani yang tergabung dalam KUD Bukit Potalo telah bermitra dengan Asian Agri sejak tahun 1994. KUD ini beranggotakan 247 petani kelapa sawit yang mengelola 494 hektar kebun kelapa sawit. KUD ini juga berhasil menjadi KUD petani plasma mitra Asian Agri pertama yang memperoleh sertifikat ISPO.

 

 

“Jalannya panjang, prosesnya tidak mudah. Kami semua bingung, namun rekan setia kami dari Asian Agri tetap sabar mendampingi,” ungkap Atan ketika mengenang pertama kalinya KUD binaannya didapuk untuk mengikuti proses pelatihan dan audit guna mendapatkan sertifikasi pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.

“Pada tahun 2017, pihak Asian Agri menunjuk kami untuk memulai proses mendapatkan sertifikasi keberlanjutan. Semenjak itu selama satu tahun kami rutin mengikuti proses audit,” tambahnya.

“Pada waktu itu tidak mudah memang merangkul petani-petani di Ukui ini untuk menerapkan prinsip keberlanjutan untuk merawat kebun kelapa sawit,” ungkap Atan.

“Petani di sini terbiasa mengurus kebun dengan cara mereka sendiri, sesuka hati mereka. Membuat mereka mengikuti aturan-aturan ketat dalam setiap aspek pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan, tentu tidak semudah membalikan telapak tangan,” Atan menjelaskan.

Namun, tantangan tersebutlah yang membuat Atan semakin giat membina para pengurus KUD untuk merangkul para petani berkomitmen dalam pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.

“Kami menjadi perantara Asian Agri dan para kelompok tani. Berbekal binaan yang didapatkan dari Asian Agri, kami memberikan pengarahan menyeluruh kepada para kelompok tani. Mulai dari pembibitan, pemupukan, hingga panen, semuanya harus sesuai dengan prinsip keberlanjutan,” terang Atan.

Hingga pada bulan Desember 2018, para petani kelapa sawit yang tergabung dalam KUD Bukit Potalo membuktikan hasil dari komitmen dan kerja keras mereka untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Sertifikat ISPO diserahkan secara langsung oleh Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Ir. Bambang, MM kepada Atan sebagai Ketua KUD Bukit Potalo, bertepatan dengan perayaan Hari Perkebunan di Gedung Sate, Bandung.

Program sertifikasi ISPO KUD Bukit Potalo merupakan ini sendiri merupakan implementasi dari Sustainable Palm Oil Initiative (SPOI) Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bersama United Nation Development Programme (UNDP), bekerja sama dengan Asian Agri.

“Bagi kami, para petani kelapa sawit, sertifikasi ini bukan sekedar lembaran bergengsi. Bagi kami sertifikasi ISPO adalah bukti keseriusan kami untuk menyesuaikan diri untuk menyatakan kepada masyarakat luas bahwa petani juga bisa mengelola kelapa sawit dengan baik dan benar,“ ungkap Atan penuh keyakinan.

 

 

 

“Belakangan ini kelapa sawit Indonesia banyak dikecam, dituduh merusak lingkungan. Sertifikat ISPO ini memberikan jawaban nyata atas tuduhan-tuduhan tersebut karena segala praktik pengelolaan kebun yang kami terapkan terbukti sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” tambahnya.

“Kami paham bahwa sebagai petani kelapa sawit, kami berada di garis terdepan untuk memperbaiki citra kelapa sawit di mata dunia,” pungkasnya.

Meskipun demikian, Atan dan para petani lainnya di KUD Bukit Potalo amat memahami bahwa terdapat tanggung jawab yang lebih besar lagi dengan tercapainya sertifikasi ISPO.

“Semenjak kami memperoleh sertifikat ISPO, seluruh dunia melihat. Sering datang warga negara asing ke KUD kami untuk melihat pengelolaan kebun yang diterapkan oleh para kelompok tani kami. Artinya kan kami tidak bisa hanya berpuas diri, tantangan yang lebih besar adalah untuk meningkatkan kualitas kami yang sudah baik ini,” ungkap Atan bersemangat.