Timotius Nicky Pratama : Meraih Impian Membangun Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan

Dunia perkebunan kelapa sawit dan Asian Agri bukanlah hal yang asing bagi Timotius Nicky Pratama atau yang akrab disapa Nicky. Pasalnya, pria kelahiran 26 Januari 1998 ini merupakan anak dari karyawan PT Inti Indosawit Subur (Asian Agri) Kebun Tungkal Ulu, Jambi, sehingga sejak lahir hingga dewasa, ia telah mengenal industri kelapa sawit dari dekat.

“Ayah saya adalah staf keamanan di Asian Agri, sehingga sejak kecil saya sudah akrab dengan kelapa sawit. Semakin saya tumbuh besar, saya semakin memiliki keinginan untuk mengikuti jejak ayah saya dengan berkarir di industri yang sama dan bergabung dengan Asian Agri,” jelas anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Impiannya bergabung dengan Asian Agri semakin terbuka lebar ketika ia berhasil memperoleh beasiswa National Championship Scholarship dari Tanoto Foundation di tahun 2015 dan memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke Universitas Jambi jurusan Teknologi Hasil Pertanian.

Berbicara mengenai motivasinya untuk menjadi bagian dari Asian Agri, Nicky berujar, “Motivasi saya ingin masuk Asian Agri karena sejak kecil hidup di sekitar kebun sawit, saya mengetahui bagaimana menjadi seorang Asisten Kebun maupun Asisten Pabrik bekerja, sehingga saya sangat tertarik untuk menjadi seperti mereka. Saya juga melihat di Asian Agri sangat memperhatikan karyawannya, itu menjadi poin plus dan semakin membuat saya ingin bergabung.”

Timotius Nicky Pratama

Setelah lulus kuliah di tahun 2019, ia kemudian mencoba mengikuti tes untuk menjadi Mill Assistant Trainee (MAT) atau Asisten Pabrik melalui program Plantation Center of Excellence (PCOE) atau Graduate Trainee Program dan berhasil lolos untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan di Asian Agri Learning Institute (AALI).

Menurut pria yang memiliki hobi futsal dan voli ini, pengalaman yang paling menarik selama menjadi graduate trainee adalah bagaimana ia dilatih secara fisik dan mental di AALI.

"Saat di AALI, saya dilatih untuk disiplin dan mandiri. Selain itu mental kita juga terlatih dan siap untuk memimpin. Pelatihan di AALI itu membuat saya menjadi pribadi dengan karakter yang lebih baik sehingga siap tempur untuk bekerja di industri ini,” jelasnya sambil mengenang.

Tak hanya itu, menurutnya, Asian Agri juga mendidik para graduate trainee agar kelak dapat menjadi pemimpin yang baik. “Menurut saya, pendidikan yang didapat di AALI sangat bermanfaat, tidak hanya sekadar diajari bagaimana praktik pengelolaan kelapa sawit terbaik dan berkelanjutan tapi kami juga dilatih agar memiliki kepemimpinan yang baik sehingga diharapkan kelak dapat menjadi pemimpin yang baik,” jelas Nicky.

Setelah lulus dari AALI di tahun 2019, Nicky langsung ditempatkan di pabrik kelapa sawit Asian Agri di Tanah Datar, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara sebagai Asisten Operasional selama 7 bulan, kemudian setelah itu menjadi Asisten Proses hingga saat ini.

Sebagai Asisten Proses, Nicky bertanggung jawab menganalisa permasalahan proses pengolahan sawit, monitoring biaya produksi dan kekurangan produksi, membuat perencanaan keuangan proses pengolahan kelapa sawit, dan melakukan fungsi pengawasan pada proses pengolahan kelapa sawit.

“Menurut saya seorang graduate trainee harus yakin bahwa kita memang memiliki potensi, kemudian kita harus memiliki tekad yang kuat bahwa tujuan kita adalah berkarir di industri kelapa sawit,” ungkap Nicky.