KEMITRAAN DENGAN PETANI

Kemitraan dengan Petani adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Bisnis Kami

 

Sejalan dengan penjabaran Trilogi Pembangunan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia yakni “Perkebunan Rakyat menjadi tulang punggung pembangunan perkebunan dengan dukungan peran strategis BUMN perkebunan dan pelayanan terhadap pengembangan usaha perkebunan besar swasta”, Asian Agri merupakan salah satu pelopor pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) yakni memadukan antara kebun milik perusahaan dengan kebun-kebun milik rakyat (petani) dalam satu kesatuan produksi melalui mekanisme kemitraan yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan yang dimulai pada tahun 1980-an.

Melalui pola PIR tersebut Asian Agri menjalin kemitraan dengan lebih dari 30,000 petani yang mengikuti program transmigrasi nasional dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra atau lebih dikenal dengan pola PIR-Trans. Dalam pola ini Asian Agri ditunjuk menjadi perkebunan inti sementara kebun rakyat (petani) menjadi perkebunan plasma. Asian Agri juga merupakan salah satu perusahaan yang mengelola skema inti - plasma terbesar di Indonesia.

Pola PIR sendiri dikembangkan pertama kali pada tahun 1987 di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Riau dan Jambi. Pada tahun 1980-an, Indonesia menghadapi beberapa tantangan sosial berkaitan dengan kepadatan populasi di Pulau Jawa. Antara tahun 1979 dan 1984, setengah dari jutaan keluarga atau hampir 2.5 juta orang pindah dari pulau Jawa ke Sumatra dan Kalimantan untuk mencapai keseimbangan populasi melalui Program Transmigrasi. Program ini juga dimaksudkan untuk menekan angka kemiskinan dengan menyediakan lahan dan kesempatan baru sebagai sumber mata pencaharian.

Pada saat yang bersamaan akan terwujud cita-cita pendiri bangsa yang ingin menjadikan perkebunan rakyat sebagai tulang punggung pembangunan perkebunan melalui penerapan azas keadilan, pemerataan dan pertumbuhan ekonomi.

Dari dua hektar lahan yang diberikan oleh pemerintah, Asian Agri membina petani plasmanya mulai dari tahap awal, yakni mengembangkan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit yang di dalam prosesnya turut memberikan pengetahuan dan keterampilan pada petani dalam budidaya dan pengelolaan perkebunan.

Asian Agri juga menjadi penggerak dalam mendukung petani plasmanya untuk mendapatkan bantuan dari bank. Setelah hampir empat tahun dikembangkan di bawah Asian Agri, perkebunan kemudian siap dan diserahkan kepada petani plasma. Tandan Buah Segar (TBS) dari pohon kelapa sawit akan dipanen dan dijual ke pabrik pengolahan kelapa sawit Asian Agri yang terletak di kebun inti dan plasma.

Dalam tiap program, Asian Agri berperan sebagai 'Perusahaan Inti', yang bertanggung jawab mengembangkan kebun bagi penduduk setempat. Sebagai perusahaan inti, Asian Agri mendirikan pabrik pengolahan untuk menerima hasil panen tandan buah segar milik rakyat (petani) sesuai dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Inti juga menyediakan akses yang efisien bagi para petani untuk mencapai pabrik minyak kelapa sawit, serta meningkatkan pendapatan mereka.

Asian Agri saat ini mengelola lahan petani plasma seluas 60,000 hektar dan mengikutsertakan hampir 30,000 keluarga di 11 kebun. Asian Agri memiliki tim khusus yang bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan kepada para petani plasma mitra Asian Agri. Tim yang terdiri dari General Manajer, manajer dan asisten manajer yang berpengalaman dan berdedikasi dalam memberikan bantuan teknis, pelatihan lapangan bagi petani plasma. Pelatihan yang diberikan bagi petani plasma bukan hanya mengenai metode untuk memaksimalkan produksi, namun juga mengenai pengelolaan kebun secara lestari termasuk melakukan perlindungan area-area yang bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value Forest), pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, pemakaian pupuk organik dan sebagainya.

Melalui penerapan pola PIR dengan menjalin kerjasama dalam skema inti-plasma, Asian Agri telah berpartisipasi dalam program pemerintah untuk menjadikan perkebunan rakyat tulang punggung pembangunan perkebunan nasional serta ikut serta mengatasi kemiskinan dan membangun kesejahteraan para petani di Indonesia.

Berkat kesuksesan dalam mengembangan perkebunan melalui pola PIR- Trans ini Asian Agri telah mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional.

Setelah sukses mengembangkan pola kemitraan dengan para petani plasma selama lebih dari 30 tahun, kini Asian Agri berkomitmen untuk memperluas kerja sama dan pembinaan dengan para petani swadaya dengan pola inti-swadaya yang bertujuan untuk meningkatkan produksi serta kualitas buah yang mereka hasilkan. Hingga tahun 2020, Asian Agri berkomitmen untuk membina 60 ribu hektar kebun milik para petani swadaya.