Praktik Perkebunan Kelapa Sawit Terbaik

Print Email

Sebagai perusahaan yang mempunyai lahan perkebunan seluas 100,000 hektar, dan lahan perkebunan petani mitra yang juga seluas 100,000 hektar, menjadikan Asian Agri perusahaan yang memiliki potensi yang besar dan signifikan terhadap kelestarian lingkungan.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa perusahaan ini berkomitmen secara penuh untuk menerapkan kebijakan berkelanjutan. Ini juga merupakan bentuk manajemen praktik terbaik agar bisa sejalan dengan filosofi 5C yang dimiliki perusahaan, yang di mana setiap aktivitasnya harus baik bagi masyarakat (community), negara (country), iklim (climate), pelanggan (customer), dan tentunya juga akan baik bagi perusahaan (company). 

Mengurangi Penggunaan Pestisida

Dahulu, salah satu cara untuk mengusir hama yang sering dilakukan di perkebunan adalah dengan menggunakan pestisida berbahan dasar kimia. Namun, jika diterapkan tidak sesuai dengan komposisi yang tepat, pestisida akan berdampak buruk bagi perkebunan, karena akan merusak ekosistem yang berada di sekitarnya. Lalu cara seperti apakah yang bisa diterapkan untuk menjaga perkebunan agar tetap terawat dengan baik?

Asian Agri menggunakan predator alami untuk mengontrol hama yang mengancam perkebunan. Selain itu, Asian Agri juga bekerja sama dengan petani untuk menerapkan hal serupa di perkebunannya.

Salah satu masalah utama di perkebunan kelapa sawit adalah serangan hama tikus. Biasanya mereka memakan pohon kelapa sawit yang belum siap untuk dipanen. Untuk mengatasi hal ini, Asian Agri memberdayakan Tyto alba, atau yang lebih dikenal dengan Burung Hantu. Asian Agri membangun rumah untuk satu ekor Tyto alba di setiap 25 hektar lahan perkebunannya. Karena jika diletakkan terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi konflik antar Burung Hantu. Dalam satu hari, seekor Burung Hantu mampu memangsa 3 hingga 5 ekor tikus. Hal ini menjadikannya sebagai metode yang paling efisien untuk menanggulangi hama tikus.

Asian Agri juga memperkerjakan petugas yang bertugas untuk mencatat jumlah dan menjaga kesehatan Burung Hantu tersebut. “Kami mengecek kesehatan mereka secara teratur, dan tidak jarang kami menemukan anak Burung Hantu di dalam kandang”, ujar Zulkarnaen selaku penjaga Burung Hantu.

“Setelah mereka berusia 6 bulan, mereka akan pergi dari kandang dan mencari sarang sendiri. Kami membiarkan mereka lepas ke alam dan tidak memelihara mereka,” lanjutnya.

Predator alami juga digunakan untuk menangani hama ulat api yang menyerang kelapa sawit. Asian Agri membudidayakan serangga bernama Sycanus, dan bunga-bunga yang menjadi rumah bagi serangga tersebut, seperti Bunga Pukul Delapan (Turnera subulata).

Tidak Melakukan Deforestasi dan Kebijakan Tanpa Bakar

Asian Agri berkomitmen untuk mendukung kebijakan Konservasi Hutan atau yang biasa disebut Zero Deforestation, dan melestarikan hutan dengan stok karbon tinggi (HCS). Asian Agri telah membentuk Technical Commitee (TC) yang bertugas untuk mengklasifikasikan hutan mana saja yang memiliki HCS, menentukan metodologi HCS, menentukan ambang batas untuk emisi gas rumah kaca, dan juga menentukan faktor yang mempengaruhi lingkungan sosial dan ekonomi daerah tersebut. TC terdiri dari enam ilmuwan berpengalaman dengan keahlian di bidang biomassa, lahan karbon, penginderaan jauh, sosial ekonomi dan pembangunan berkelanjutan, industri kelapa sawit global, dan penilaian keberlanjutan.

Sejak tahun 1994, Asian Agri menjadi salah satu perusahaan yang pertama kali melarang penggunaan api atau pembakaran untuk keperluan pembukaan lahan. Sejak saat itu pula, Asian Agri bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk memberikan mereka pengetahuan dan juga insentif secara ekonomi, yang mereka butuhkan untuk lahan mereka agar bisa terbebas dari kebakaran, yaitu melalui program Fire Free Village (FFVP).

Bersama FFVP, desa yang menjadi mitra diberikan pendidikan tentang bahaya dari penggunaan api. Mereka juga diberitahu cara yang paling aman untuk membuka lahan. Masyarakat yang berhasil menjaga desanya terbebas dari kebakaran, berhak mendapatkan hadiah berupa pembangunan infrastruktur sesuai keinginan mereka, seperti jalanan, jembatan, dan masjid.

Manajemen Nol Limbah

Kebijakan Manajemen Nol Limbah Asian Agri berupaya untuk mengatur, memantau, dan mengelola limbah. Asian Agri mengidentifikasi limbah apa saja yang dapat digunakan kembali, yang berada dalam wilayah operasi kami, seperti Tandan Buah Kosong (EFB) dan Limbah Minyak Sawit (POME). Kemudian informasi ini diberikan kepada departemen R&D, untuk dikembangkan dan dicari nutrisi yang tepat, agar bisa menggantikan pupuk kimia. R&D akan merekomendasikan metode apa dan berapa banyak dosisnya untuk mencapai hasil yang optimal.

Limbah padat seperti serat dan cangkang sawit digunakan sebagai bahan bakar biomassa, untuk boiler yang menjalankan turbin uap di pabrik Asian Agri, atau dengan kata lain menyediakan sumber energi terbarukan. Untuk limbah cair, akan ada proses penilaian dan pemantauan kualitas, sebelum dilepas ke ke darat. Kami melakukan penilaian kualitas rutin oleh pihak eksternal untuk memastikan bahwa kami mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku Indonesia.

Manajemen Energi

Dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, Asian Agri membangun tujuh pembangkit listrik tenaga biogas pada Januari 2018, dengan rencana jangka panjang akan membangun sebanyak 20 buah pembangkit listrik di setiap pabriknya, pada tahun 2020. 20 pabrik tersebut mengonversi limbah organik yang berasal dari proses produksi, dan menjadikannya energi yang bersih, dan mampu memberikan tenaga listrik sebesar 44 Megawatt.

 

Karena gas metana secara signifikan lebih bersih daripada batu bara dan bahan bakar fosil lainnya, maka pabrik biogas dianggap memiliki manfaat terhadap lingkungan yang lebih besar. Hal ini dikarenakan dapat mengurangi emisi yang timbul di pabrik kelapa sawit yang menggunakan biogas hingga 60 persen. Di tahun 2020, Asian Agri juga berencana untuk memasang alat penangkap gas metana di setiap pabriknya, dengan tujuan utama mengurangi emisi.

Pabrik biogas ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap rencana pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pembangkit listrik di negara ini sebesar 35.000 MW dari tahun 2015 hingga 2019, dan untuk 25 persen dari kekuatan baru yang dihasilkan dari sumber terbarukan. Pemerintah berencana untuk menanggulangi kekurangan kapasitas pembangkit listrik karena permintaan daya listrik di negara ini yang terus meningkat.