Kisah Tulus, Petani Kelapa Sawit Indonesia

Print Email

Hidup tidak selamanya berjalan dengan mulus. Antonius Tulus atau yang sering dipanggil Tulus, merupakan sosok pekerja keras yang berani mengambil tantangan untuk menuju hidup yang lebih baik. 

Sebelum sukses menjadi petani perkebunan sawit di provinsi Riau, beliau merupakan karyawan Asian Agri selama kurang lebih 10 tahun. Banyak hal yang telah dilalui olehnya pada masa itu, ia sempat menjadi orang yang bertugas menghitung tandan buah segar, bergabung di divisi produksi buah petani hingga bekerja di pabrik.

Tak jarang ia mendapatkan komentar dari atasannya yang bisa terbilang tegas. Belakangan, setelah menjalani mata pencahariannya sebagai petani, ia pun menyadari bahwa hal-hal yang disampaikan oleh atasannya tersebut tidak lain demi efisiensi dan kesuksesannya dalam menanam, merawat, dan mengolah kelapa sawit.

Setelah berkeluarga, Tulus merasa tuntutan untuk menafkahi keluarga semakin besar. Kehidupannya berubah sejak ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja pada tahun 2004. Dua tahun kemudian, beliau bertekad untuk membeli satu kavling tanah kelapa sawit berukuran dua hektar. Bermodalkan uang pinjaman dari bank sebesar 75 juta rupiah, Tulus memulai perjalanan baru sebagai petani kelapa sawit.

Tulus bermitra dengan Asian Agri, perusahaan yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah. Semangat dan kerja keras beliau dari hasil kebun sawit terbukti berhasil, ia mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Ia juga dipercaya menjadi ketua salah satu koperasi di Kecamatan Ukui, KUD Bina Usaha Baru yang terdiri dari 16 kelompok tani (KT). 

Bermitra dengan Perusahaan

Tulus merupakan salah satu contoh petani kelapa sawit yang sukses dalam menggeluti pekerjaannya berkat hubungan kemitraan dengan perusahaan. Perusahaan mengedepankan kesejahteraan petani dengan memberikan pembinaan dan pendampingan kepada petani secara rutin.

Para petani diberikan pelatihan mulai dari penanaman hingga perawatan tanaman kelapa sawit agar dapat mengelola kebun yang baik dan berkelanjutan sehingga meningkatkan hasil produksi. Di sisi lain, petani juga diberikan pemahaman mengenai pemilihan bibit unggul, pemakaian pupuk organik, bantuan dana dari bank dan sertifikasi seperti RSPO. Proses sertifikasi memberikan petani akses serta jaminan ke pasar nasional dan internasional.

Sebagai perusahaan mitra, Asian Agri mendapat kepastian dan jaminan buah yang diterima telah memenuhi sistem kemampu-telusuran sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Perusahaan turut memberikan pembinaan kepada para petani agar memastikan kejelasan tandan buah segar yang mereka hasilkan.

Transparansi informasi tentang asal tandan buah segar merupakan hal yang substansial. Asian Agri berkomitmen untuk tidak menerima buah yang berasal dari kawasan yang dilindungi.

Menggunakan Cara Alami dalam Penanganan Hama

Permasalahan yang kerap kali dihadapi para petani adalah minimnya pengetahuan tentang praktik perkebunan yang lestari. Asian Agri mengambil langkah dengan memberikan pelatihan dan bimbingan yang rutin melalui tenaga yang terampil dan petani diberi kesempatan untuk studi banding. Seperti yang dilakukan Tulus sekarang, beliau tidak sendirian dalam menangani hama kelapa sawit.

Tulus dibantu oleh burung hantu berjenis Tyto alba yang menjaga setiap 25 hektar kebunnya bebas dari serangan hama tikus. Sebelum beliau mengetahui mengenai Tyto alba yang terbukti efektif dalam menangkal hama tikus, Tulus menggunakan pestisida atau racun tikus.

Tidak hanya tikus yang ditanggulangi oleh burung hantu, hama lainnya juga turut ditanggulangi secara alami. Para petani dibantu untuk menanam bunga Air Mata Pengantin atau yang dikenal dengan Antigonon untuk membasmi hama ulat api yang dapat merusak pohon kelapa sawit yang masih muda. Tidak hanya Antigonon, bunga pukul delapan (Turnera subulata) dan Cassia cobanensis juga turut ditanam. Tanaman-tanaman indah ini menjadi host plant bagi serangga predator ulat api, Sycanus.

Sycanus juga dikembangbiakkan di pusat penelitian Asian Agri. Berbagai bunga ini ditanam secara cantik disekitar perkebunan untuk membantu petani menghindari penanganan hama dengan bahan kimia. Penggunaan predator alami untuk membasmi hama ini merupakan implemetasi dari praktik perkebunan yang berkelanjutan dan lestari.

Peremajaan Lahan (Replanting)

 

Saat ini Tulus juga sedang melakukan proses peremajaan (replanting) lahan kelapa sawitnya yang sudah tua. Tanaman kelapa sawit akan mengalami penurunan produksi pada usia 25 tahun, jika dibiarkan, hasil yang diperoleh pun tidak optimal. Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah menunggu pohon yang baru untuk tumbuh dan siap dipanen di usia sekitar 36 bulan atau tiga tahun lamanya

Asian Agri menyediakan bibit Topaz milik perusahaan bagi para petani mitranya. Bibit ini dikenal sebagai bibit yang memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan kelebihan lainnya. Benih Topaz menawarkan dua keunggulan sekaligus, yaitu kemampuan beradaptasi dengan kondisi lahan dan hasil yang tinggi.

Selama masa peremajaan, para petani akan kehilangan pendapatan tetap sehingga harus mencari penghasilan alternatif. Asian Agri telah melakukan pembekalan kepada petani dalam hal penghasilan alternatif sejak tahun 2012 untuk memudahkan petani menghadapi masa peremajaan. Selama menunggu buah siap dipanen, mereka mendapatkan penghasilan dari beternak sapi, kambing, ikan, atau tanaman palawija.

Dengan dilakukannya pelatihan dan bimbingan secara intensif dan konsisten, Asian Agri percaya produktivitas dan kesejahteraan petani dapat terjaga dan terus meningkat. Tulus adalah satu dari 30.000 keluarga petani yang bermitra dengan Asian Agri. Semoga keuletan dan semangat kerjanya dapat menginspirasi petani-petani sawit Indonesia.