Tinggalkan Kampung Halaman Menjemput Kesuksesan

Print Email

Syahmad dan keluarganya masih bertahan di kampung halamannya di Tebing Tinggi, Medan, Sumatera Utara dengan kondisi yang jauh dari mapan pada tahun 1980an, sampai dirinya pertama kali mendengar tentang program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) dari temannya.

Temannya yang telah terlebih dahulu pindah ke daerah yang sudah ditentukan dalam PIR-Trans, kini menikmati kehidupan yang lebih baik dengan menjadi petani kelapa sawit. Kondisi yang sangat berbeda dengan Syahmad yang kala itu berprofesi sebagai petani padi, bergelut dengan resiko gagal panen dan pendapatan yang tidak menentu.

"Ketika mendengar dari teman saya, saya mulai berpikir untuk mengikuti jejak tetangga saya tersebut. Oleh karena itu saya pindah ke Buatan, Riau pada tahun 1990," terang Syahmad.

Syahmad membawa serta istri dan anak pertamanya, Rudiansyah, yang ketika itu masih berumur dua tahun.

 

 

"Ketika awal bergabung dengan program transmigrasi, kami diberi lahan seluas 2,5 hektar. Dua hektar dari total lahan tersebut dimanfaatkan untuk perkebunan sawit sementara setengah hektar lainnya sebagai lahan pertanian dan rumah," ujar ayah dari tiga orang anak tersebut.

Menurut Syahmad, meskipun ia dan keluarganya bersyukur telah diberikan tempat tinggal oleh pemerintah, namun rumah kayu yang dipersiapkan dalam program tersebut masih terlalu sempit untuk ditinggali oleh keluarganya.

"Dulu pada awal saya pindah ke sini, daerahnya masih sepi. Banyak fasilitas yang belum memadai, seperti tidak ada lampu dan sulitnya sarana transportasi," lanjutnya.

 

 

Selain itu, perpindahan profesi dari petani padi menjadi petani sawit membuat Syahmad harus menghadapi kesulitan di lapangan. Ia harus belajar dari awal mengenai cara menanam dan merawat tanaman kelapa sawit.

Meskipun demikian, proses adaptasi menjadi lebih mudah dan kondisi semakin membaik semenjak Syahmad bergabung menjadi mitra Asian Agri.

Selain konsisten mengembangkan infrastruktur di Buatan, perusahaan juga menyediakan pelatihan dan pengarahan yang berkesinambungan bagi Syahmad dan petani sawit lainnya mengenai praktik dan metode terbaik untuk mengelola perkebunan kelapa sawit.

Syahmad menjelaskan bahwa pupuk yang disediakan oleh perusahaan untuk digunakan oleh para petani juga telah diuji keasliannya di laboratorium milik Asian Agri. Selain itu para petani juga dilatih cara untuk mengatasi hama dan rumput liar.

Asian Agri juga menunjukan kepada para petani mengenai cara mengelola perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.

Setiap tahunnya, Syahmad sedikit demi sedikit dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya.

"Saya dapat pindah ke rumah baru, dalam kurun waktu lima atau enam tahun setelah membangun kemitraan dengan Asian Agri. Menyenangkan rasanya dapat pindah dari rumah kayu yang sempit ke rumah yang lebih luas," ujarnya.

 

 

Menurutnya, peningkatan kualitas hidup secara terus-menerus yang membuat kemitraannya dengan Asian Agri dapat bertahan selama 27 tahun, dan tetap tumbuh menjadi lebih baik saat ini.

"Saya rasa kondisinya akan sangat berbeda jika dari awal saya tidak bermitra dengan Asian Agri. Perusahaan tidak hanya membantu kami (petani sawit) dengan pelatihan agar kami berkembang menjadi petani yang lebih cakap dan sukses, namun Asian Agri juga menuntun kami dalam menjual hasil produksi kami," ungkap Syahmad.

Dalam ranah personal, bagi Syahmad pencapaian terbesarnya sebagai ayah dan kepala keluarga adalah ketika ia dapat membiayai pendidikan anaknya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Syahmad yang merupakan anak seorang petani padi.

"Alhamdulillah, saya dan istri mampu menguliahkan dua anak kami, semuanya berkat kerja sama dengan Asian Agri. Sebelumnya, bahkan untuk bermimpi pun saya tidak berani," tambahnya.

 

 

Syahmad juga merasa sangat bersyukur karena anak tertuanya, Rudiansyah, telah menyelesaikan pendidikannya dan sekarang menjadi bagian dari Asian Agri dengan bekerja sebagai asisten Plasma. Rudiansyah menolong para petani seperti ayahnya yang memutuskan bergabung dengan program transmigrasi demi perbaikan kualitas hidup.

"Semenjak bergabung dengan Asian Agri, anak saya sangat membantu menopang kondisi keuangan keluarga. Ia banyak membantu orang tua dan adik-adiknya. Hal tersebut juga merupakan karunia yang sangat kami syukuri," pungkasnya.