Program Desa Bebas Api Asian Agri

Print

Mencegah kebakaran hutan dan asap di Indonesia membutuhkan kerjasama hingga di tingkat masyarakat, ini sebabnya Asian Agri meluncurkan program Desa Bebas Api pada tahun 2016.

Desa Bebas Api merupakan respon dari masalah kebakaran lahan yang berulang, menghancurkan hutan, merusak lingkungan dan menimbulkan asap yang dapat mengganggu kesehatan dan menimbulkan masalah di kawasan regional.

Membakar merupakan cara tradisional yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai cara yang paling efektif dan murah dalam membuka lahan. Namun, membakar berisiko tinggi saat musim kering dan menyebabkan api menyebar dan sulit dikontrol.

Program Desa Bebas Api bertujuan untuk bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap bahaya serta menyediakan alternatif yang lebih murah dibandingkan menggunakan api.

Program ini dimulai pada tahun 2016 dengan Sembilan desa di Riau dan Jambi, Sumatra. Program ini berhasil mengurangi lahan yang terdampak kebakaran dari 13,75 hektar menjadi 7,98 hektar di tahun berikutnya.

Berangkat dari kesuksesan ini, tahun 2017 program in diperluas dengan menjangkau 16 desa.

Faktor kunci dalam program ini adalah reward untuk desa yang tidak terbakar, yang memberikan insentif ekonomi berupa infrastruktur yang dapat digunakan masyarakat jika mereka berhasil mencegah desanya dari kebakaran. Masyarakat desa bebas memilih penggunaan hadiah uang tersebut, desa yang mendapatkan reward sebelumnya menggunakan untuk pembangunan jalan, jembatan dan tempat ibadah.

Desa yang berpartisipasi dan berhasil mencegah terjadinya kebakaran di desanya berhak atas hadiah Rp 100 juta, dan sebesar Rp 50 juta diberikan pada desa yang berhasil membatasi kebakaran di bawah satu hektar. Desa yang gagal mencegah terjadinya kebakaran sesuai ketentuan tidak berhak atas hadiah.

Tim Desa Bebas Api juga bekerja dengan masyakarat setempat untuk memberikan pengetahuan bahaya penggunaan api dan menyediakan alat berat yang memungkinkan warga membuka lahan tanpa membakar.

Tim yang dibentuk sebagian besar terdiri dari penduduk lokal, dengan Pemimpin Kru yang dipilih dari kalangan masyarakat setempat. Membangun kemitraan sangat penting dalam upaya pencegahan kebakaran melalui kesadaran masyarakat dan bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar.


Pada tahun 2016 Asian Agri menjadi salah satu anggota pendiri Aliansi Kebakaran Bebas (FFA), yang menyatukan beberapa perusahaan kehutanan dan pertanian untuk menjangkau lebih dari 200 desa, yang mencakup setidaknya 1,5 juta hektar lahan di berbagai wilayah di Indonesia.

FFA didedikasikan untuk mendukung komitmen Pemerintah Indonesia terhadap ASEAN bebas kabut pada tahun 2020.

Asian Agri adalah salah satu pelopor dalam pencegahan kebakaran, dengan memperkenalkan kebijakan zero-burning pada tahun 1994.