Penelitian Princeton University: Menyoroti Keberlanjutan Kinerja Asian Agri

Print Email

Sebuah proyek koordinasi antara WWF dan Asian Agri dalam membina petani meraih sertifikasi sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan untuk pertama kalinya dalam makalah penelitian Universitas Princeton.

Apa pun yang anda makan sekarang, mungkin ada 2-3 gram minyak kelapa sawit di dalamnya.

Minyak kelapa sawit telah menjadi bahan yang esensial bagi kehidupan kita sehari-hari. Minyak sawit ada dimana-mana. Ia dapat ditemukan di makanan seperti mie instan hingga di dalam deterjen. WWF memperkirakan bahwa hampir setengah dari barang-barang yang dijual di supermarket mengandung minyak kelapa sawit.

Blair Cameron dari Princeton University membuat sebuah penelitian mengenai hal ini. Ia meneliti bagaimana cara untuk tetap mendukung minyak kelapa sawit ini - serta masyarakat yang menggantungkan nasibnya pada produk ini - pada saat bersamaan tetap berusaha mengurangi efeknya terhadap lingkungan sekitar. Hal ini merupakan subjek penelitian Blair Cameron dari Princeton University melalui proyek percontohan yang membantu 349 petani kelapa sawit dalam mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan di Provinsi Riau, Indonesia.

Proyek percontohan yang dikoordinasikan antara WWF dan Asian Agri, memperkenalkan petani kepada Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah organisasi global yang terdiri dari beberapa perusahaan sawit, pengecer, lembaga keuangan, dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki fokus terhadap lingkungan. Pada tahun 2013, organisasi percontohan ini menjadi pelopor bagi petani swadaya di Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi dengan menggunakan standar RSPO.

Melibatkan Petani

RSPO didirikan pada tahun 2004, dengan standarisasi yang diadopsi dari produsen utama minyak sawit. Namun, sebanyak 40 persen dari produksi minyak sawit bukan berasal dari produsen utama, melainkan dari petani kecil yang berjumlah 1,7 juta petani. Kondisi rantai pasok yang rumit, lokasi perkebunan sawit yang terpencil, dan sengketa kepemilikan tanah perkebunan menambah tantangan program sertifikasi petani swadaya.

Selain itu, banyak petani yang tidak memiliki sistem yang memadai maupun kemampuan yang dibutuhkan untuk mendapatkan sertifikasi. Contohnya, petani harus memiliki dokumentasi rencana bisnis (business plan), catatan aktivitas mereka, dan menggunakan prosedur yang tepat dan aman dalam menggunakan bahan kimia. Hal ini membuat para petani membutuhkan pelatihan, sementara petani harus meluangkan waktu yang biasa dihabiskan di kebun, dan menyisihkan uang, yang secara finansial di luar jangkauan petani kecil kebanyakan. 

Meski demikian, sertifikasi ini memberikan banyak manfaat. Sebagai catatan, para petani swadaya ini lebih tidak produktif dibandingkan mereka yang menerapkan praktik perkebunan terbaik: sebuah studi yang dilakukan International Finance Corporation pada tahun 2013 menyatakan bahwa petani kecil menghasilkan hanya setengah dari perkebunan yang dikelola dengan lebih baik. Menyebarkan sertifikasi RSPO akan memberi manfaat, tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga bagi para petani.

Pada tahun 2010, perubahan pada peraturan RSPO memungkinkan petani kecil untuk bersama-sama mendaftarkan sertifikasi secara berkelompok, menghimpun dana, dan mencapai skala ekonomis. Dengan demikian, memberi kesempatan bagi proyek percobaan WWF yang merupakan pokok dari Princeton’s paper. 

Proyek Percobaan

WWF memutuskan untuk menerapkan proyek percobaan mereka di area sekitar Taman Nasional Tesso Nilo di provinsi Riau, dan Asian Agri membuktikan diri sebagai mitra yang ideal. Perkebunan milik perusahaan – yang berkontribusi atas sekitar setengah dari hasil perkebunan – sudah tersertifikasi RSPO, begitu juga dengan para ‘petani kemitraan’ – petani yang dibina oleh perusahaan dan menghasilkan 25% produksi lainnya. Sementara itu 25% sisanya lebih sulit. 

“Adanya kemungkinan keberatan untuk membentuk kelompok,” ujar Sustainability Director Asian Agri, Freddy Widjaya, seperti dikutip dalam laporan tersebut. “Anda harus melatih kepemimpinan, dan menemukan pemimpin di antara para petani-petani kecil merupakan tantangan yang cukup besar."

WWF berhasil menemukan pemimpin yang dicari, pemimpin koperasi 30 petani kecil yang setuju untuk terlibat dalam proyek percobaan. Rekrutmen tambahan pada akhirnya membuat total peserta proyek percobaan ini menjadi 349, yang bertanggung jawab atas lahan seluas 763 hektar.

Para petani yang berpartisipasi menerima pengarahan mengenai teknik agrikultur, keberlanjutan, serta proses bisnis.

Menilai Kesuksesan

Proyek ini terbukti sangat sukses sampai-sampai lebih banyak lagi petani yang bergabung: menurut laporan, hingga 2016, 501 petani kecil yang secara kolektif memiliki 1.048 hektar ikut terlibat.

Hasil produksi meningkat secara signifikan, dari 14 hingga 15 metrik ton buah sawit per hektar setiap tahun sebelum asosiasi ini tersertifikasi RSPO pada pertengahan 2013, menjadi 24 ton per tahun pada 2015. Proyek percobaan ini berhasil mencapai target untuk mendapatkan sertifikasi bagi kelompok petani kecil pertama di Indonesia, meskipun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menjangkau petani lainnya.

Meski demikian, sertifikasi RSPO tidak lepas dari kritik – termasuk dari beberapa NGO (organisasi non pemerintah) yang berpendapat bahwa seluruh penggunaan minyak sawit harus dihapuskan. Namun laporan menunjukkan bahwa minyak nabati alternatif selain sawit, memerlukan lebih banyak tanah untuk menghasilkan volume yang sama. Hal ini tentunya akan berdampak pada kelestarian hutan dunia.

Hingga saat ini sebanyak 84 persen dari perkebunan Asian Agri telah bersertifikat RSPO.

Klik di sini untuk versi PDF