Bangga Jadi Petani - Adi Sucipto, Keterbatasan yang Menembus Batas

Print Email

Adi Sucipto terlahir dengan dua kaki yang sehat, namun kecelakaan sepeda yang menimpanya ketika berumur empat tahun membuat kakinya mengalami kelumpuhan permanen.

Semenjak saat itu, Adi harus hidup hanya dengan mengandalkan kedua tangannya.

Tumbuh dewasa tanpa topangan kaki yang sehat seperti orang lain ternyata tidak mematahkan semangat hidup Adi Sucipto.

Ia terus mengembangkan diri hingga berhasil mendapatkan medali emas di ajang Paralimpik nasional, tidak hanya di satu bidang olahraga namun dua; angkat berat dan boling.

Adi Sucipto pun tak membuat kondisinya menjadi halangan untuk mengemban amanah ayahnya agar ia melanjutkan kepengurusan kebun kelapa sawit mereka.

Ayahnya bergabung menjadi bagian dari program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) pada tahun 1995. Pada waktu itu, Ia memboyong keluarganya dari Medan demi kehidupan yang lebih baik di Riau, karena profesi sebelumnya sebagai petani padi tidaklah mencukupi.

 

 

Adi Sucipto baru saja menyelesaikan pendidikan SMA ketika ikut ayahnya pindah ke Riau.

Semenjak pindah, ia sering membantu ayahnya di kebun kelapa sawit tanpa perlu disuruh. Adi mengaku merasakan ketenangan dan kedamaian ketika berada di kebun kelapa sawit.

“Semenjak pindah ke Riau, saya sering bantu-bantu Bapak di kebun,” ujar Adi.

“Saya mengerjakan apa saja yang saya bisa, biasanya saya bersih-bersih rumput dan semak-semak,” lanjutnya.”

Adi mengerjakan pekerjaan kebun tanpa bantuan siapa pun dan tanpa keluhan, walaupun kondisi fisiknya seringkali memaksanya untuk merangkak di tanah.

 

 

 

Titik Balik
Kehidupan Adi mulai berubah ketika kawannya, Bunga, memperkenalkan Adi dengan dunia yang benar-benar baru baginya: olahraga.

“Teman saya Bunga suatu hari minta saya menemani dia ke Pekanbaru, di sana ia membawa saya ke tempat latihan atlet difabel,” Adi menjelaskan.

“Saya melihat para atlet berlatih untuk mengikuti Pekan Paralimpik Nasional dan apa yang saya lihat pada saat itu benar-benar membuat saya takjub,”

“Sebelumnya saya tidak pernah tahu bahwa kami, kaum difabel, bisa menjadi atlet,” kenangnya penuh haru.

Semenjak saat itu, Adi memutuskan untuk bergabung di pusat pelatihan tersebut dan berkomitmen melatih dirinya agar dapat menjadi atlet. Adi memilih angkat berat sebagai langkah pertamanya di bidang olahraga.

Upaya kerasnya pun membuahkan hasil ketika di tahun 2012 Adi Sucipto terpilih sebagai salah satu atlet yang mewakili provinsi Riau di ajang Pekan Paralimpik Nasional cabang angkat berat di Pekanbaru, Riau.

“Saya sangat senang, bersemangat dan tegang juga waktu itu,” ujarnya terkekeh.

Di tengah campur aduk perasaan tersebut, Adi dapat tetap tenang dan menunjukkan hasil terbaik. Ia pun berhasil mengantongi medali pertamanya meski masih berupa perunggu.

 

 

Keberhasilan Selanjutnya
Walaupun senang bisa mendapatkan perunggu di kompetisi olahraga pertamanya, Adi tidak berbangga diri. Ia terus menempa dirinya agar semakin berkembang hingga akhirnya Adi berkenalan dengan boling dan merasa jatuh cinta pada olahraga tersebut.

Di cabang boling, Adi semakin keras berlatih karena ia menyadari boling adalah hal yang baru baginya. Meskipun dibutuhkan minimal dua jam untuk menempuh jarak dari rumahnya di Pangkalan Kerinci ke gelanggang olahraga di Pekanbaru, Adi tetap semangat berlatih setiap harinya.

Setelah dua tahun berlatih dengan intensif, Adi terpilih lagi sebagai atlet boling yang mewakili provinsi Riau dalam Pekan Paralimpik Nasional tahun 2016 di Bandung, Jawa Barat.

Adi semakin menyadari bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil ketika ia berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu perak dari cabang olahraga boling.

“Saya cukup bangga atas apa yang dapat saya persembahkan untuk provinsi Riau,” ucapnya.

Uang yang didapatnya sebagai peraih medali emas kemudian digunakan untuk menambah lahan perkebunan keluarganya agar mereka semakin siap menghadapi proses peremajaan lahan.

“Saya berpikir, umur perkebunan kelapa sawit ayah saya ini sudah sekitar 20 tahun dan mendekati masa peremajaan. Jika tidak ada pendapatan alternatif maka kami akan kesulitan selama masa peremajaan,” terang Adi.

Sekarang, Adi Sucipto masih tetap berlatih boling sambil mengurus perkebunan keluarganya dan mengikuti jejak ayahnya menjadi petani plasma serta melanjutkan kerja sama dengan Asian Agri.

“Saya tidak melihat alasan untuk menyerah karena kerja keras saya tidak hanya akan membanggakan keluarga saya namun juga diri saya sendiri,” pungkas Adi.

Kisah Adi Sucipto adalah bukti nyata bahwa kesuksesan bukanlah hal yang mustahil ketika kekuatan untuk berjuang telah tertanam dalam diri dan keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraihnya.