Pelopori Kebijakan “Zero Burning”, Asian Agri Bantu Petani dan Masyarakat Buka Lahan Tanpa Bakar

Print Email

Pelalawan, Riau, 5 November – Metode pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar masih kerap terjadi dan menjadi permasalahan mendasar yang ada di suatu desa. Dampak dari pembakaran lahan selain dapat merusak lingkungan juga berisiko terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan skala besar hingga dapat berakibat terjadinya bencana kabut asap yang dapat merugikan semua pihak.

Dalam hal pencegahan karhutla, Asian Agri telah berkomitmen untuk menerapkan kebijakan zero burning sejak tahun 1994 dan memastikan kebijakan ini juga dijalankan oleh masyarakat sekitar perusahaan dan juga petani mitra Asian Agri. Oleh karena itu, Asian Agri menggelar kegiatan edukasi serta aksi nyata cara membuka lahan tanpa bakar kepada para petani dan masyarakat di Kantor Desa Lubuk Ogong, Kecamatan Bandar Sei Kijang, Kabupaten Pelalawan, Riau, hari ini.

Welly Pardede, Head CSR & HSE Asian Agri mengungkapkan, “Program pembukaan lahan tanpa bakar merupakan bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat, yang bertujuan agar masyarakat meninggalkan cara lama yaitu membuka lahan dengan cara membakar, karena cara ini sangat berbahaya dan merugikan lingkungan dan kesehatan," kata Welly.

Menurut Welly, Asian Agri berkomitmen untuk selalu memberikan dukungan kepada masyarakat desa dalam bentuk pelatihan, sosialisasi, serta pendampingan kepada masyarakat untuk mengelola lahan yang dibuka.

Camat Bandar Sei Kijang, Wazarman, menyampaikan bahwa program yang dilakukan Asian Agri ini sangat bermanfaat untuk masyarakat. “Dengan adanya pendampingan dan sosialisasi tentang pembukaan lahan tanpa bakar ini, masyarakat desa khususnya dan petani menjadi lebih peduli dan mengubah perilakunya sehingga diharapkan tidak akan ada lagi yang membuka lahan dengan cara membakar,” tambah Wazarman.

Pada kesempatan ini, Kepala Desa Lubuk Ogong, Triono mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Asian Agri bagi desanya. “Kami berharap program seperti ini dapat ditingkatkan kuantitasnya dan juga menjadi inspirasi bagi desa lain untuk melakukan hal yang serupa. Mari bersama kita mencegah karhutla di lingkungan desa masing-masing,” ungkap Triono.

Manajer Fire Free Village Program (FFVP), Hafiz Hazalin Sinaga mengungkapkan bahwa pencegahan karhutla ini berawal dari permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat. “Penyebab utama karhutla adalah karena terbatasnya dana untuk membuka lahan secara mekanis, karena itu dengan adanya program ini, Asian Agri akan memfasilitasi masyarakat desa yang ingin mengelola lahan dengan diberikan pembekalan mengenai teknik budidaya tanaman yang sesuai dengan lahan yang akan dibuka sehingga dapat memberikan pendapatan alternatif untuk masyarakat desa,” ujar Hafiz.

 

Sekilas Mengenai Asian Agri:

Asian Agri merupakan salah satu perusahaan swasta nasional terkemuka di Indonesia yang memproduksi minyak sawit mentah (CPO) sejak tahun 1979. Hingga kini Asian Agri mengelola 100.000 hektar kebun kelapa sawit dan mempekerjakan 25.000 orang.

Sebagai perintis program Pemerintah Indonesia Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans), Asian Agri telah bermitra dengan 30.000 petani plasma di Riau dan Jambi yang mengelola 60.000 hektar kebun kelapa sawit, serta membina kemitraan dengan petani swadaya untuk membawa dampak positif terhadap kesejahteraan dan peningkatan ekonomi petani.

Dengan menerapkan kebijakan tanpa bakar dan praktik pengelolaan kebun secara berkelanjutan, Asian Agri membantu petani mitra untuk meningkatkan produktivitas, hasil panen, kemamputelusuran rantai pasok, sekaligus mendukung mereka memperoleh sertifikasi. Pabrik Asian Agri menerapkan teknologi terbaik memanfaatkan energi hijau yang dihasilkan secara mandiri, dalam rangka meminimalisasi emisi gas rumah kaca.

Perkebunan inti Asian Agri di Provinsi Sumatera Utara, Riau & Jambi serta perkebunan petani plasma di Provinsi Riau & Jambi telah bersertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Pada saat yang sama, ISCC (International Sustainability & Carbon Certification) telah dicapai oleh seluruh kebun baik yang dimiliki oleh Asian Agri maupun petani binaannya. Seluruh unit bisnis dalam naungan Asian Agri telah memperoleh sertifikat ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

Keberhasilan Asian Agri menjadi salah satu perusahaan produsen CPO terkemuka telah diakui secara internasional dengan sertifikasi ISO 14001 untuk semua operasinya. Learning Institute di Pelalawan, Riau, serta pusat pembibitan di Kampar, Riau, juga telah bersertifikat ISO 9001. Selain itu, laboratorium di Pusat Penelitian dan Pengembangan Asian Agri di Tebing Tinggi juga telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional di bawah ILAC Mutual Recognition Arrangement (ILAC MRA).

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Maria Sidabutar
Kepala Komunikasi Perusahaan
E-mail : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Klik disini untuk versi PDF