[JAMBI INDEPENDENT] PRAKTIK TERBAIK, QPC, DAN KEMITRAAN PETANI MENJADI KUNCI ASIAN AGRI MENGELOLA SAWIT BERKELANJUTAN

Print Email

Kesadaran para pekebun kelapa sawit berkelanjutan baik petani maupun perusahaan mengubah cara pandang pengelolaan kebun untuk tidak sekedar menanam sawit dan memanen tandan buah segar (TBS), namun juga mengelola dengan prinsip ramah lingkungan serta QPC (quality, productivity dan cost).

Hal ini disampaikan Direktur Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri dalam Seminar Nasional yang digelar Universitas Jambi melalui sarana diskusi digital bertajuk “Sinergitas Fungsi Produksi, Ekologi dan Sosial dalam Pengelolaan Lahan Berkelanjutan”.

Asian Agri menerapkan praktik perkebunan terbaik untuk meningkatkan hasil kebun atau produktivitas dengan tetap menjaga biaya atau cost seefektif dan seefisien serta memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Praktik pengelolaan kelapa sawit di Asian Agri bersifat integratif, mengupayakan setiap kegiatan dari fungsi produksi, ekologi/lingkungan serta sosial memberi manfaat keberlanjutan yakni 5C (good for community, good for country, good for climate, good for customer, dan good for company),” kata Bernard.

Seminar tersebut juga menampilkan pembicara utama Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, ekonom senior Fadhil Hasan, Ketua CoE BlasTS Universitas Jambi, Bambang Irawan, dan Zulkifli Alamsyah, Ketua CSSPO Universitas Jambi sebagai moderator.


Baca selengkapnya di Jambi Independent.