Perkebunan: Yudiansyah

Perjalanan Yudiansyah meniti karir di perkebunan kelapa sawit bersama Asian Agri bukanlah tanpa tantangan. Namun, Yudiansyah berhasil membuktikan bahwa tekadnya untuk mengembangkan diri lebih besar dari tantangan apapun. Setelah delapan tahun menjadi bagian dari keluarga besar Asian Agri, kini Yudiansyah menjabat sebagai Asisten Kepala di perkebunan kelapa sawit Asian Agri di Kabupaten Bungo Tebo. Simak kisahnya berikut ini!

Yudiansyah muda begitu dekat dengan orang tua dan keluarganya, mereka tinggal di daerah pegunungan nan sejuk di kota Bandung, Jawa Barat. Memasuki bangku perkuliahan, Yudiansyah memilih untuk menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran yang juga berlokasi di Bandung, kota kelahirannya.

“Saya dan keluarga berasal dari Bandung. Sebelum bergabung dengan Asian Agri, saya tidak pernah merantau jauh dari kota Bandung dan meninggalkan keluarga saya,” ungkap Yudiansyah.

Begitu lulus dari bangku kuliah di tahun 2011, ia mendapat tawaran langsung dari pihak Asian Agri untuk bergabung dan bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Saya ditelepon oleh pihak manajemen Asian Agri. Tentu saja senang, sedari kuliah saya mengenal Asian Agri sebagai salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Tapi kabar yang membahagiakan itu juga mendatangkan kegalauan bagi saya,” ungkap Yudiansyah.

Tantangan pertama yang membatasi Yudiansyah dengan kesempatan mengembangkan karir muncul ketika orang tuanya enggan merestui anak laki-laki mereka merantau jauh ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Orang tua saya dirundung rasa khawatir, mereka takut saya tidak kerasan hidup di kampung orang. Belum lagi perbedaan budaya dan unggah-ungguh yang sangat kontras, itu semua menjadi pertimbangan keluarga saya,” Yudiansyah menjelaskan.

“Namun, segala kekhawatiran itu saya tampik. Sesungguhnya saya pun memiliki kekhawatiran sendiri, terlebih pada waktu itu saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai perkebunan kelapa sawit, Bahkan, melihat pohon sawit dan buah sawit yang akan diolah menjadi minyak sawit pun belum pernah!” ungkapnya diiringi tawa, ia lanjut bercerita bahwa latar belakang pendidikannya di bangku kuliah lebih fokus pada pembelajaran mengenai tanaman hortikultura.

Pada waktu itu, pengetahuannya yang terbatas mengenai kelapa sawit dilihatnya sebagai tantangan kedua.

“Modal saya hanya keberanian untuk menaklukan setiap tantangan yang muncul. Meskipun saya tahu akan menjalani kehidupan di tempat yang sangat berbeda dengan kampung halaman saya, dengan orang-orang dari budaya yang berbeda pula. Belum lagi budaya di perkebunan kelapa sawit yang terkenal keras,” terangnya.

Berbekal tekad yang kuat dan kepercayaan diri, Yudiansyah berangkat ke Sumatera untuk bergabung dengan Asian Agri. Seperti yang diperkirakan, sesampainya di tanah rantau tantangan-tantangan lainnya bergantian menghampiri.

“Awalnya, saya mengalami kesulitan beradaptasi ketika berada di Sumatera. Dari segi bahasa dan cara berkomunikasi saja sudah sangat berbeda dengan daerah asal saya, belum lagi penyesuaian tubuh saya terhadap makanan daerahnya,” Yudiansyah bercerita sambil tersenyum ketika mengingat masa-masa awal ia tinggal di Sumatera.

Yudiansyah pun harus menjalani pelatihan dasar disiplin di Asian Agri Learning Institute (AALI)—seperti para calon planter Asian Agri lainnya—bertempat di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Sebagai salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia, pelatihan dasar ini dirancang oleh Asian Agri untuk mempersiapkan para calon planter agar memiliki kemampuan yang memadai untuk bisa bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Di sinilah mental saya terbentuk. Selama enam bulan saya dilatih untuk menjadi karakter yang lebih tangguh, meninggalkan sifat manja dan pola pikir individualistis saya selama masa kuliah. Saya betul-betul dipersiapkan untuk menjadi seorang planter yang tidak hanya bisa mengurus diri saya sendiri namun juga mengurus banyak pekerja di perkebunan kelapa sawit,” ungkap Yudiansyah.

Terbatasnya pengetahuan awal Yudiansyah terhadap perkebunan kelapa sawit pun teratasi dalam waktu enam bulan selama ia menjalani pelatihan di AALI.

“Di situ saya betul-betul dibimbing, tidak hanya dilatih ketangkasan fisik dan ketahanan mental, namun juga diberikan banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai perkebunan kelapa sawit,” tambahnya.

Selepas enam bulan menimba ilmu di AALI, Yudiansyah pun akhirnya siap untuk terjun ke lapangan. Penempatan pertamanya di perkebunan kelapa sawit adalah sebagai staff Quality Control di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Ia bertugas di sana selama enam bulan hingga ia diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai Asisten Afdeling di perkebunan kelapa sawit Asian Agri yang bertempat di Desa Rantel, Kabupaten Bungo, Jambi.

“Perkebunan kelapa sawit yang berada di Desa Rantel ini memiliki topografi yang cukup menantang. Namun, saya kembali yakin bahwa tantangan ini akan memberikan pelajaran berharga jika saya sanggup melewatinya. Setelah beberapa lama bertahan dan membuat peningkatan produktivitas kebun, saya diberikan kepercayaan yang lebih lagi untuk menjadi Asisten Kepala di Kabupaten Bungo Tebo, Jambi,” jelas Yudiansyah.

Yudiansyah menjelaskan ketika pertama kali ia dipindahkan ke perkebunan kelapa sawit Asian Agri di Kabupaten Bungo Tebo, kondisi di sana belum sebaik sekarang.

“Bahkan dulu, perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bungo Tebo ini terkenal sebagai salah satu perkebunan kelapa sawit milik Asian Agri yang paling sulit untuk dikelola,” ujarnya.

Namun, sudah hampir tiga tahun Yudiansyah menjabat sebagai Asisten Kepala di perkebunan kelapa sawit, Kabupaten Bungo Tebo, ia mengaku merasa nyaman dan tidak mengalami kesulitan yang berarti.

“Saya tidak melihat perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bungo Tebo ini seburuk pandangan orang-orang. Memang, ada beberapa tantangan dari segi kondisi sosial masyarakat yang dulu enggan diajak berkoordinasi. Tapi ternyata kondisinya perlahan membaik dengan metode komunikasi yang tepat,” terang Yudiansyah.

Salah satu strategi Yudiansyah agar selalu siap menghadapi berbagai tantangan dalam berkarir di perkebunan kelapa sawit adalah dengan selalu memercayai timnya.

“Di kebun memiliki budaya yang sangat erat nilai kebersamaannya. Saat bekerja di perkebunan kelapa sawit, kita perlu menguasai kemampuan bekerja dalam tim yang solid dan kompak. Hal itu pula yang selalu saya terapkan ketika menghadapi permasalahan. Saya selalu bertukar pikiran dengan anggota tim saya, maupun atasan saya. Hal ini sangat membantu untuk membuka pandangan kita dalam menilai suatu permasalahan,” katanya.

Dari segi kultural, pria dengan logat Sunda yang masih sangat kental ini mengaku telah merasa bahwa Jambi adalah rumah keduanya.

“Seluruh pekerja dan masyarakat di sini sudah menjadi keluarga baru bagi saya. Begitu pun anggota tim saya. Saat tinggal di kebun, saya pun belajar hidup berdampingan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kami sering mengadakan kegiatan olah raga bersama agar suasana kebersamaan semakin kental,” ungkap Yudiansyah.

Bagi Yudiansyah, setiap tantangan yang berhasil ia taklukan telah membuatnya menjadi lebih tangguh untuk mengejar kesuksesan dalam berkarir di perkebunan kelapa sawit.

Tidak pernah sedetik pun ia menyesal menerima tawaran pada tahun 2011 dari salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Tawaran inilah yang hari ini membantunya menentukan arah hidup untuk hari esok. Seluruh pelajaran yang didapatnya membuat Yudiansyah semakin siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.

Ikuti jejak Yudiansyah! Bersama Asian Agri, ciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat dan negara karena kami adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Bergabunglah bersama kami!