NEGERI

Bermanfaat Bagi Negara

 

Devisa dan Ketahanan Pangan

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2013, industri kelapa sawit telah menyumbang 1.6% Gross Domestic Product (GDP) nasional. Industri kelapa sawit Indonesia juga berkontribusi sebesar 11% atau 20 miliar dollar dari total ekspor. Indonesia mengekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya ke lebih dari 45 negara di dunia. Tercatat ada sembilan konsumen terbesar CPO Indonesia yaitu India, Uni Eropa, Cina, Malaysia, Singapura, Bangladesh, Mesir, Pakistan, dan Amerika Serikat. Sebagai pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia saat ini, industri kelapa sawit meningkatkan pendapatan devisa negara.

Sebanyak 80% produksi minyak sawit berasal dari negara-negara berkembang sehingga sangat positif dalam meningkatkan pendapatan masyarakatnya. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi minyak sawit dunia saat ini didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia.

Dalam jangka waktu lima tahun mendatang, kebutuhan minyak nabati global mencapai lebih dari 236 juta ton. Proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia 2020 ini dibahas pada Oilworld Outlook Conference 2015 di Hamburg, Jerman. Produksi CPO dunia yg mencapai 78 juta ton disokong oleh dua produsen utama yaitu Indonesia 42 juta ton dan Malaysia 23 juta ton.

Konsumsi global minyak kelapa sawit naik dari 17,7 juta ton pada 1997 menjadi 52.1 juta ton pada 2012. Hal ini menjadikannya minyak yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Konsumen utama minyak sawit adalah Cina, India, Indonesia dan Uni Eropa. India, Cina, dan Uni Eropa tidak menghasilkan minyak sawit mentah dan permintaan mereka sepenuhnya dipenuhi oleh impor. Pada tahun 2009, India, Cina dan Uni Eropa menyumbang 52 persen dari impor global. 


Tenaga Kerja

Industri kelapa sawit di Indonesia telah menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja. Lebih dari setengahnya terlibat langsung dalam perkebunan sehingga mampu menggerakkan perekonomian nasional. Per tahunnya dibutuhkan 5.000 sampai 6.000 tenaga kerja di sektor kelapa sawit di seluruh Indonesia. Sektor kelapa sawit membutuhkan SDM terdidik dan terampil dalam pengolahan. Kebutuhan regenerasi SDM kelapa sawit di Indonesia amat besar dikarenakan kelapa sawit telah dimulai sejak zaman pra-kemerdekaan 100 tahun yang lalu. Aspek berkelanjutan dan lingkungan hidup juga menjadi aspek penting dalam mencetak tenaga kerja siap pakai.  

 


 

Konservasi Lingkungan

Kelapa sawit bermanfaat dalam menyerap karbondioksida dan menghasilkan 196,8 juta oksigen. Karena perkebunan sawit umumnya menggunakan lahan bekas logging dan lahan hutan yang tidak terawat, hal ini menyebabkan sawit menjadi salah satu penyumbang oksigen untuk Indonesia dan dunia.

Komitmen Asian Agri dalam menerapkan pencegahan deforestasi adalah melalui perlindungan areal HCV (High Conservation Value/Area Konservasi Tinggi), HCS (High Carbon Stock/Area yang memiliki karbon tinggi), kebijakan tanpa bakar (zero burning) dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Komitmen kedua adalah perlindungan terhadap lahan gambut. Asian Agri berkomitmen untuk tidak melakukan penanaman baru di lahan gambut serta melakukan praktik perkebunan terbaik. Komitmen ini diperkuat dengan inisiatif Asian Agri dalam penandatanganan Sustainable Palm Oil Manifesto (SPOM) dan Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP) di New York sebagai langkah maju menuju keberlanjutan.


Infrastruktur

Pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan, saluran air dan bangunan keagamaan semua termasuk dalam program infrastruktur.

 


 

Ketahanan Energi

Asian Agri tahun ini membangun lima PLTB yang antara lain ada dua di Sumatra Utara, dua di Riau dan satu di Jambi. Masing-masing PLTB akan menghasilkan energi listrik sebesar 2MW. Total energi sebesar 10MW nantinya akan cukup untuk mendukung pasokan energi nasional. PLTB Asian Agri menggunakan teknologi digester tank dari negeri sakura, prosesnya menggunakan ‘an aerobic membrane tank’  yang fungsinya mempercepat dan memaksimalkan proses pembentukan gas metan. Semakin banyak gas metan yang tersedia, semakin banyak juga energi yang dihasilkan nantinya di PLTB.  

Tiga pabrik milik Asian Agri yakni Pabrik Taman Raja, Pabrik Gunung Melayu I dan Buatan I telah diverifikasi oleh auditor ISCC, SGS Germany pada 2015. Ketiga pabrik tersebut terverifikasi karena teknologi biogasnya berjalan baik dan tidak ada kebocoran. Jika ada kelebihan, biogas di dalam gas engine ini digunakan untuk energi listrik dan flaring. Dengan demikian tidak ada methane capture yang terbuang ke udara, tetapi semuanya ditampung di dalam biogas tersebut dan digunakan untuk energi pembangkit listrik.