Connected Plantation: Penggunaan Teknologi untuk Meningkatkan Efisiensi

Print Email

Secara sepintas aktivitas di perkebunan kelapa sawit terkesan jauh dari teknologi canggih. Kegiatan panen dengan cara tradisional menggunakan tangan dan egrek, ditimbang di pinggir jalan, dimuat ke truk bak terbuka lalu diangkut ke pabrik. Kegiatan ini merupakan pemandangan akrab di perkebunan bahkan sejak dari 100 tahun yang lalu.

Kegiatan berbeda mulai terlihat di perkebunan Asian Agri sejak perusahaan menerapkan Asian Agri Connected Plantation.

Asian Agri saat ini mengelola 100.000 hektar lahan milik perusahaan dan 60.000 lahan petani mitra. Dalam kebijakan keberlanjutan Asian Agri memiliki komitmen tinggi untuk tidak menambah lahan perusahaan. Inilah yang menjadikan efisiensi sebagai kunci dalam meningkatkan produksi perusahaan.

Dari sinilah inisiatif program AACP dimulai. Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan perkebunan, mempermudah perusahaan menganalisis, serta mempercepat proses pengambilan keputusan.

Program AACP dimulai dengan pengumpulan data dari setiap proses produksi. Data dikumpulkan dan dimasukkan melalui perangkat tablet diolah menjadi data real-time yang dapat memberikan gambaran kegiatan di lapangan. Data tersebut mempermudah seorang manajer menguasai apa yang terjadi di lapangan.

Pada tahun 2016, AACP dihadirkan untuk meningkatkan efisiensi dalam operasional perkebunan. Persiapan dimulai pada Mei 2016 dan mulai diaplikasikan di kebun inti milik perusahaan pada Oktober 2016 di kebun Gunung Melayu yang kemudian diterapkan di seluruh perkebunan perusahaan di Jambi, Sumatra Utara dan Riau.

“Kami bisa mendapatkan data pasti mengenai berapa buah yang dihasilkan di satu area tertentu,” kata Maradat L, Head of Digital Transformation Asian Agri.

Pada tahap pertama, Asian Agri fokus pada teknologi untuk membantu operasional di perkebunan. Perusahaan membekali mandor dan asisten dengan perangkat tablet yang sudah dilengkapi software khusus.

Seorang mandor akan meng-input area-area yang sudah siap dipanen. Data tersebut diterima dan digunakan untuk menyusun jadwal penugasan panen. Waktu panen yang tepat dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.

Perlengkapan yang sama diberikan juga pada kerani yang memeriksa jumlah dan kualitas buah setelah dipanen dan meng-input ke dalam sistem. Supir yang mengangkut hasil panen juga dilengkapi dengan tablet untuk meng-input data berapa hasil panen yang diangkutnya.

“Sebelumnya menggunakan teknologi ini, banyak staf yang harus pulang hingga larut malam untuk menyelesaikan data dan perhitungan premi setelah panen,” kata Maradat.

Data yang didapatkan di lapangan dapat digunakan untuk memantau produktivitas, serta menyediakan informasi yang dibutuhkan seperti area mana yang membutuhkan penanganan lebih baik.

Pada tahap selanjutnya penggunaan teknologi juga akan diberikan pada tim sensus, tim pemeliharaan hingga mantri tanaman dan penyakit.